Rohil, Catatanriau.com – Suasana di Kampung Bangko Permata, Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, mendadak memanas pada Selasa malam (8/9/2026). Ratusan warga mendatangi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berada di Kilometer 3 dan menutup sementara operasional SPBU tersebut.
Aksi warga dipicu insiden tragis yang menewaskan seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun. Korban dilaporkan meninggal dunia setelah tersengat aliran listrik di sekitar pagar atau kurungan besi lampu petunjuk keluar-masuk SPBU (neon box in-out).

Menurut keterangan sejumlah warga, insiden tersebut diduga terjadi akibat kabel pada bagian lampu neon box dalam kondisi terkelupas sehingga memungkinkan aliran listrik menyentuh bagian besi.
“Kabel dari lampu box SPBU terkelupas, jadi terpegang oleh anak tersebut hingga akhirnya anak itu kesetrum dan meninggal,” ujar seorang warga di sekitar lokasi.
Warga lainnya menilai insiden tersebut semestinya dapat dicegah apabila kerusakan pada instalasi listrik segera diperbaiki. Menurutnya, kondisi yang diduga mengalami korsleting itu telah lama diketahui dan berada sangat dekat dengan lokasi warga berjualan.
Ia juga meminta masyarakat tidak terburu-buru menyalahkan orang tua korban. Menurutnya, saat kejadian, ibu korban sedang membeli minuman di sekitar lokasi dan langsung meminta pertolongan warga setelah anaknya tersengat listrik.
“Tempat kejadiannya sangat dekat dengan tempat ibunya membeli minuman. Jaraknya kurang lebih satu meter. Ketika kejadian, ibunya langsung meminta pertolongan kepada warga sekitar dan korban dibawa ke klinik terdekat,” ungkapnya.
Kemarahan warga semakin memuncak lantaran pihak keluarga dan masyarakat menilai belum mendapatkan respons yang dianggap memadai dari pihak SPBU setelah kejadian tersebut. Warga kemudian beramai-ramai mendatangi SPBU untuk meminta pertanggungjawaban.
Penghulu Turun Menenangkan Massa

Di tengah kerumunan warga, Penghulu Kampung Bangko Permata, Paimin, berupaya menenangkan massa dan menjadi bagian dari proses komunikasi antara keluarga korban, masyarakat, serta pihak SPBU.
Paimin mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi langsung dengan pemilik SPBU. Dalam komunikasi tersebut, pemilik SPBU disebut menyampaikan bahwa dirinya masih berada di luar negeri sehingga belum dapat hadir langsung.
“Beliau mengatakan beliau tidak bisa hadir karena masih di luar negeri. Tapi beliau berjanji, tanggal 12 September 2026 paling lama beliau langsung akan sampai ke Kampung Bangko Permata,” kata Paimin di hadapan warga.
Menurut Paimin, pemilik SPBU juga menyatakan kesediaannya bertanggung jawab terkait persoalan yang terjadi.
Selain itu, biaya pemakaman korban dan rangkaian kegiatan keluarga setelah pemakaman disebut akan ditanggung oleh pihak manajemen SPBU.
“Biaya pemakaman untuk besok, ataupun acara tahlilan tiga hari, tujuh hari dan seterusnya akan ditanggungjawabi pihak manajemen SPBU. Tadi sudah langsung kepada ketua STM di lingkungan korban berdomisili, beliau berbicara dan sudah disepakati,” jelasnya.
Paimin menambahkan, sebelumnya keluarga korban meminta agar persoalan pertanggungjawaban tidak diputuskan hanya oleh manajer SPBU. Mereka menginginkan komunikasi langsung dengan pemilik usaha.
“Untuk manager SPBU, yang namanya manager itu kan dia hanya pekerja. Oleh karena itu sebelumnya pihak keluarga korban menolak jika manager yang memutuskan. Mereka minta harus pemilik SPBU langsung,” ujarnya.
Paimin kemudian menyampaikan kepada warga bahwa pemilik SPBU telah berkomunikasi dengan pihak keluarga dan tokoh masyarakat serta berjanji datang paling lambat 12 September 2026.
Pernyataan tersebut kemudian ditanyakan Paimin kepada massa. Warga yang berkumpul pun menjawab secara serempak bahwa mereka percaya.
Manajemen SPBU Sampaikan Permintaan Maaf
Dalam kesempatan tersebut, pihak manajemen SPBU yang menemui massa, didampingi Penghulu Kampung Bangko Permata, tampak menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya korban.
Pihak manajemen juga menyampaikan duka mendalam kepada keluarga korban serta permohonan maaf kepada keluarga besar korban dan masyarakat setempat.
Setelah adanya komunikasi dan kesepakatan tersebut, Paimin meminta warga membubarkan diri secara tertib dan memberikan ruang bagi keluarga untuk berduka.
“Setelah ini saya mohon tinggalkan tempat ini. Kita sama-sama menghibur keluarga korban saat ini. Kehadiran kita di rumah duka untuk mengobati duka mereka,” ucapnya.
Warga akhirnya membubarkan diri secara tertib. Sebagian warga kemudian berbondong-bondong menuju rumah duka untuk memberikan dukungan kepada keluarga korban.
SPBU yang sempat ditutup warga tersebut juga dikabarkan telah kembali beroperasi seperti biasa.
Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban sekaligus menjadi perhatian masyarakat terhadap aspek keselamatan instalasi listrik di area publik. Warga berharap pihak terkait dapat memastikan kondisi instalasi listrik di sekitar SPBU aman sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi.***
