Dari Limbah Jadi Pupuk, Mahasiswa Kukerta UNRI 2026 Gelar Sosialisasi dan Praktik Pembuatan Lubang Biopori di SDN 006 Muda Setia

Dari Limbah Jadi Pupuk, Mahasiswa Kukerta UNRI 2026 Gelar Sosialisasi dan Praktik Pembuatan Lubang Biopori di SDN 006 Muda Setia

Pelalawan, Catatanriau.com — Permasalahan sampah hingga kini masih menjadi tantangan lingkungan yang belum sepenuhnya teratasi, termasuk di Desa Muda Setia. Salah satu persoalan utama yang dihadapi masyarakat adalah belum tersedianya Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga sampah rumah tangga masih dikelola secara mandiri. Tak jarang, sampah dibakar atau dibuang begitu saja di lahan terbuka. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, menurunkan kualitas sanitasi, serta mengganggu kesehatan masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Riau (UNRI) Tahun 2026 menghadirkan solusi sederhana namun efektif melalui penerapan teknologi lubang resapan biopori. Teknologi ini dinilai mampu menjadi alternatif pengelolaan sampah organik yang mudah diterapkan oleh masyarakat, sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan.

Biopori bukanlah teknologi baru, namun penerapannya terbukti efektif dalam mengurai sampah organik, meningkatkan daya resap air ke dalam tanah, serta menghasilkan pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman. Program ini secara khusus menyasar guru dan siswa SDN 006 Desa Muda Setia sebagai upaya menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sejak usia dini.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 18 Juli 2026 tersebut diawali dengan sosialisasi mengenai pengertian biopori, manfaatnya bagi lingkungan, serta tahapan pembuatan lubang biopori. Antusiasme para guru dan siswa tampak begitu tinggi saat mengikuti kegiatan. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan lubang biopori di halaman sekolah.

Kepala SDN 006 Muda Setia, Desi Yandi, S.Pd.SD., M.Pd., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai memberikan edukasi yang bermanfaat bagi warga sekolah.

“Program ini sangat bagus untuk dilakukan karena memberikan dampak positif terhadap guru dan murid yang ada di sekolah,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan pada 19 Juli 2026 dengan proses pembuatan lubang biopori. Tahapan dimulai dari penggalian tanah, menyiapkan pipa paralon yang telah dilubangi menggunakan bor, kemudian menanamnya ke dalam tanah sesuai ukuran yang telah ditentukan. Setelah terpasang, pipa diisi dengan sampah organik seperti sisa sayuran dan buah-buahan. Selanjutnya, lubang ditutup dan dibiarkan bekerja secara alami hingga sampah organik terurai menjadi pupuk kompos.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Kukerta UNRI berhasil membuat enam lubang biopori yang tersebar di sekitar pekarangan SDN 006 Muda Setia. Keberadaan biopori tersebut langsung dimanfaatkan oleh warga sekolah sebagai tempat pembuangan sisa makanan. Seiring waktu, sampah organik yang terkumpul akan terurai secara alami dan menghasilkan kompos yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan ini, warga sekolah diperkenalkan pada pemanfaatan sampah organik sebagai bahan baku pengomposan melalui lubang resapan biopori. Sampah berupa sisa makanan, daun kering, maupun limbah pekarangan dapat diolah menjadi kompos secara alami sehingga mampu mengurangi timbunan sampah yang berpotensi mencemari lingkungan.

Selain berfungsi sebagai media pengomposan, lubang biopori juga berperan penting dalam meningkatkan kemampuan tanah menyerap air hujan, mengurangi potensi genangan, menjaga cadangan air tanah, serta mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Kolaborasi antara mahasiswa Kukerta Universitas Riau dengan warga SDN 006 Muda Setia diharapkan mampu menumbuhkan budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah. Melalui kebiasaan sederhana seperti memilah dan mengolah sampah organik dengan biopori, masyarakat sekolah diharapkan dapat menerapkan pengelolaan lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan, sehingga tercipta lingkungan desa yang lebih bersih, sehat, serta memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap persoalan sampah maupun air hujan.***

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index