Rohul, Catatanriau.com — Semangat menjaga warisan leluhur kembali terasa kuat di kawasan bersejarah Huta Haiti, Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu. Kehadiran Penjabat Sekretaris Daerah (Pj. Sekda) Rokan Hulu, H. Yusmar, menjadi momen penuh haru dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat setempat.
Bagi warga Huta Haiti, sosok H. Yusmar bukanlah nama asing. Jauh sebelum menjabat sebagai Pj. Sekda, beliau dikenal sebagai figur yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian sejarah dan budaya daerah saat menjabat Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Rokan Hulu pada tahun 2018 silam. Di masa itulah awal perjuangan besar revitalisasi situs bersejarah Huta Haiti dimulai.
Melalui dukungan dan perjuangan yang dilakukan bersama tokoh masyarakat, akhirnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengalokasikan bantuan Revitalisasi Desa Adat (RDA) melalui APBN Tahun 2018 sebesar Rp385 juta. Dana tersebut digunakan untuk membangun dua unit Rumah Rarangan Boru Namora Suri Andung Jati, Balai Adat Desa Rambah Tengah Barat, hingga pembangunan pagar kawasan situs bersejarah tersebut.
Bangunan yang dulunya mulai rapuh dimakan usia kini kembali berdiri kokoh tanpa menghilangkan bentuk asli dan nilai sejarahnya. Revitalisasi itu tidak hanya menjadi pembangunan fisik semata, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan identitas budaya masyarakat Huta Haiti.
Ketua Lembaga Kerapatan Adat (LKA), Endang Sunaryo Nasution, yang juga Tokoh Adat Huta Haiti dengan gelar Mangaraja Kayo, mengenang perjuangan tersebut sebagai salah satu momen penting dalam sejarah pelestarian budaya di Rokan Hulu.
"Perjuangan dan dukungan untuk mendapatkan bantuan dana dari pusat ini tidak luput dari arahan dan dukungan beliau sebagai Kadis Pariwisata Kabupaten Rokan Hulu pada masa itu," ungkapnya. Sebagai mana di kutip saat dirinya berbincang - bincang dengan masyarakat. Pada Minggu (24/5/2026) di salah satu warung warga masyarakat setempat.
Ia menambahkan, kehadiran H. Yusmar tahun ini dalam acara Mandai Ulu Taon yang di laksanakan di setiap tahun nya, mewakili Bupati Rokan Hulu memberikan kesan mendalam bagi masyarakat. Menurutnya, perhatian terhadap situs sejarah seperti Huta Haiti menjadi bukti bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman modern.
"Atas nama masyarakat Huta Haiti umumnya dan khususnya Desa Rambah Tengah Barat, kami mengucapkan terima kasih. Semoga ke depannya ada sosok seperti beliau yang benar-benar memperhatikan tempat-tempat bersejarah, sehingga sejarah para leluhur tidak termakan usia dan dapat menjadi pedoman bagi generasi muda," tambahnya.
Endang juga, menjelaskan bahwa pembangunan kembali rumah rarangan dan balai adat dilakukan karena kondisi bangunan lama sudah rusak berat dan tidak lagi layak digunakan. Meski dilakukan pembangunan ulang, proses revitalisasi tetap mempertahankan bentuk asli bangunan demi menjaga nilai autentik sejarah Huta Haiti yang diwariskan turun-temurun.
Kini, kawasan Jejak Terkahir Boru Namora Suri Andung Jati Huta Haiti tidak hanya menjadi simbol sejarah masyarakat adat, tetapi juga mulai tumbuh sebagai destinasi wisata budaya yang menarik perhatian masyarakat luas. Nuansa tradisional yang masih terjaga dipadukan dengan kisah perjuangan leluhur menjadikan tempat ini memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Masyarakat berharap perhatian pemerintah terhadap situs-situs sejarah di Rokan Hulu terus berlanjut. Sebab, di balik bangunan tua dan cerita masa lampau, tersimpan jati diri serta nilai-nilai budaya yang menjadi akar kehidupan generasi masa kini dan masa depan.***
