PEKANBARU,CATATAN RIAU.COM,: —Dua insiden tragis yang terjadi dalam waktu berdekatan di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Desa Sungai Ara, Kabupaten Pelalawan, Riau, kembali menyoroti konflik antara manusia dan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Setelah dua korban meninggal dunia dalam rentang kurang dari sepekan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau meningkatkan upaya mitigasi dengan memasang dua kandang jebak di sekitar lokasi kejadian.
Korban terbaru adalah Eko Prasetyo (29), seorang pekerja yang diduga diserang Harimau Sumatera pada Jumat malam, 10 Juli 2026, di sekitar kawasan kamp pekerja. Peristiwa tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah seorang anak berusia 12 tahun juga meninggal dunia akibat serangan harimau di kawasan yang sama, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan masyarakat dan para pekerja.
Menanggapi peristiwa tersebut, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau melalui Koordinator Perlindungan dan Pengembangan Wilayah Kelola Rakyat (WKR), Rezki Andika, menyatakan bahwa penangkapan harimau bukanlah solusi utama untuk mengakhiri konflik satwa dan manusia.
Menurutnya, akar persoalan perlu diselesaikan melalui perlindungan dan pemulihan habitat Harimau Sumatera.
Dalam keterangannya, Rezki Andika menyebut kawasan konsesi HTI yang dikelola PT Madukoro Lestari Estate Tasik, yang disebut sebagai pemasok bahan baku kayu ke PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang terafiliasi dengan APRIL Group, berada di wilayah yang menjadi koridor alami Harimau Sumatera. Ia berpendapat bahwa perubahan lanskap dan berkurangnya ruang hidup satwa dapat meningkatkan potensi interaksi antara harimau dan manusia.
"Harimau secara alami cenderung menghindari manusia. Serangan dapat terjadi ketika habitatnya terganggu atau satwa merasa terancam," ujar Rezki Andika dalam keterangan pers WALHI Riau. Ia juga mendorong adanya evaluasi terhadap pengelolaan kawasan serta langkah-langkah untuk menjaga kelestarian habitat satwa yang dilindungi.
Sementara itu, berdasarkan informasi BBKSDA Riau, lokasi serangan kedua berjarak sekitar 6,5 kilometer dari lokasi kejadian pertama. Hasil identifikasi awal terhadap jejak yang ditemukan menunjukkan karakteristik yang serupa, sehingga masih didalami kemungkinan berasal dari individu Harimau Sumatera yang sama. BBKSDA juga mengimbau perusahaan untuk menerapkan standar operasional yang ketat guna melindungi pekerja serta meningkatkan kewaspadaan di sekitar habitat satwa liar.
Direktur Perkumpulan Elang, Besta Junandi Nduru, menilai dua insiden yang terjadi dalam waktu singkat menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Menurutnya, penyusutan habitat akibat perubahan tutupan lahan dapat meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa liar. Ia mendorong perusahaan untuk memperkuat upaya konservasi sekaligus memastikan keselamatan pekerja di lapangan.
WALHI Riau dan Perkumpulan Elang pada prinsipnya mendorong pemerintah serta pihak-pihak terkait untuk mengevaluasi pengelolaan kawasan, memperkuat perlindungan habitat Harimau Sumatera, dan memastikan langkah mitigasi dilakukan secara menyeluruh. Organisasi tersebut juga menekankan pentingnya pemulihan ekosistem agar konflik serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.
Di sisi lain, BBKSDA Riau terus melakukan penanganan di lapangan melalui pemasangan kandang jebak, pemantauan pergerakan harimau, serta koordinasi dengan perusahaan dan masyarakat. Tragedi di Sungai Ara menjadi pengingat bahwa perlindungan keselamatan manusia dan pelestarian Harimau Sumatera harus berjalan beriringan melalui mitigasi yang terukur, pengelolaan habitat yang berkelanjutan, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.****
