Kampar, Catatanriau.com — Suasana di SD Negeri 021 Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, mendadak riuh pada Rabu siang (12/11/2025). Ratusan wali murid yang didominasi ibu-ibu mendatangi sekolah tersebut untuk melakukan aksi damai menuntut agar dua guru honorer, Yon Hendri dan Reza Arya Putra, segera dinonaktifkan.

Massa yang datang membawa berbagai poster berisi protes, di antaranya bertuliskan:
“Nonaktifkan Yon Hendri dan Reza Arya Putra”
“Kami Tidak Menerima Tenaga Pendidik yang Arogan dan Tidak Memiliki Basic Pendidik!!!”

Menurut sejumlah wali murid, kedua guru tersebut dinilai bersikap arogan dan sering memarahi siswa di kelas. Hal itu dianggap tidak mencerminkan perilaku seorang pendidik.
“Mereka berdua suka marah-marah kepada anak-anak, tidak bagus memberi pelajaran. Kami sebagai orang tua tidak tenang kalau anak-anak dibentak,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Aksi berlangsung tertib meskipun sempat menarik perhatian masyarakat sekitar. Para ibu-ibu terlihat memenuhi halaman sekolah sambil menunggu kehadiran pihak pemerintah daerah untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung.

Hingga berita ini diturunkan, Bupati Kampar Ahmad Yuzar bersama pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar dilaporkan telah tiba di lokasi untuk melakukan mediasi antara pihak sekolah, guru yang bersangkutan, dan para wali murid.
Sebelumnya, nama Yon Hendri menjadi sorotan publik setelah sebuah video viral di media sosial memperlihatkan dirinya membanting nasi kotak di lingkungan sekolah. Kejadian itu disebut terjadi pada Senin, 10 November 2025.
Dalam klarifikasinya, Yon Hendri menjelaskan bahwa insiden tersebut terjadi akibat tekanan dari rekan-rekan guru yang mendesaknya untuk segera membagikan nasi kepada para siswa.
Ia juga menegaskan bahwa nasi kotak tersebut bukan bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), melainkan bingkisan dari Dinas Pendidikan Kampar seusai kegiatan sosialisasi anti-bullying bersama Kejaksaan Negeri Kampar.
Peristiwa ini memicu beragam reaksi warganet. Sebagian mengecam tindakan Yon Hendri sebagai sikap emosional yang tidak pantas dilakukan oleh seorang guru. Namun, tak sedikit pula yang menilai bahwa beban kerja dan tekanan terhadap guru honorer sering kali menjadi pemicu stres di lingkungan pendidikan.
Kasus ini kini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kampar. Wali murid berharap agar penanganan dilakukan secara adil dan transparan, demi menjaga kenyamanan proses belajar-mengajar di SDN 021 Tarai Bangun.***
