Catatanriau.com - Ada satu cerita yang selalu menarik perhatian saya setiap kali berkunjung ke Siak: Legenda Puteri Tujuh. Kisah ini mengisahkan para puteri yang konon disembunyikan dalam benteng batu untuk menjaga kehormatan dinasti, lalu hilang secara misterius ketika istana berada dalam ancaman. Sebagian orang menganggapnya sekadar dongeng masa lalu, sementara sebagian lain memperlakukannya hampir seperti kebenaran sejarah. Saya sendiri tidak terpaku pada dua sudut itu. Yang lebih membuat saya berpikir adalah bagaimana kita memandang cerita tersebut—apa yang kita cari darinya, dan mengapa kisah itu tetap hidup dalam masyarakat Melayu hingga hari ini.
Sebagai mahasiswa yang mempelajari filsafat pengetahuan, saya sering bertanya: apakah sebuah cerita harus benar secara faktual untuk memiliki nilai? Apakah kita memahaminya karena ia benar-benar terjadi, atau karena ia menyimpan sesuatu yang penting? Duncan Pritchard, filsuf kontemporer, pernah menegaskan bahwa pengetahuan bukan sekadar kumpulan fakta. Pengetahuan merupakan hasil proses panjang: kesaksian orang lain, ingatan kolektif, hingga interpretasi kita terhadap dunia. Melihat Legenda Puteri Tujuh melalui kacamata epistemologi seperti ini membuat saya memahami kisah itu bukan sebagai klaim sejarah, tetapi sebagai cara masyarakat Melayu menyusun pengetahuan tentang diri mereka.
Pada masa jayanya, Siak adalah pusat kekuasaan dan budaya yang dihormati hingga ke Semenanjung Melayu. Ancaman politik dan perang antar-kekuatan merupakan kenyataan yang selalu membayangi. Maka tidak mengherankan jika muncul cerita tentang upaya melindungi tujuh puteri dari tangan penguasa asing. Dalam dunia yang berubah cepat dan penuh risiko, masyarakat mengekspresikan kegelisahan dan harapan mereka melalui mitos. Hilangnya para puteri mungkin tidak perlu dibaca secara harfiah; mungkin itu simbol kehormatan yang hilang, kekuasaan yang runtuh, atau keputusan ekstrem demi menyelamatkan sesuatu yang lebih besar. Tetapi apakah itu membuat kisahnya kurang berharga? Menurut saya, justru di situlah kekuatannya.
Cerita seperti Puteri Tujuh bertahan bukan karena pembaca zaman sekarang sepenuhnya percaya, melainkan karena ia memicu pertanyaan penting: nilai apa yang ingin disampaikan masyarakat masa lalu melalui narasi itu? Dari sana, kita belajar bahwa dalam tradisi Melayu, perempuan kerap diposisikan sebagai penjaga marwah keluarga. Kita juga memahami bahwa kekuasaan yang baik tidak hanya berdiri di atas strategi politik, tetapi juga tanggung jawab moral. Nilai-nilai semacam itu tidak muncul begitu saja; ia lahir dari cerita, pantun, dan legenda. Masyarakat Melayu merawat nilai tersebut dengan cara yang lembut namun kuat—melalui kisah yang terus diceritakan.
Di sinilah saya melihat hubungan yang menarik antara mitos dan filsafat. Filsafat mendorong kita untuk skeptis, tetapi skeptis yang tidak meremehkan. Skeptisisme yang sejati, seperti dikatakan Pritchard, justru mengajak kita membaca lebih dalam, bukan lebih dangkal. Saya tidak perlu percaya bahwa Puteri Tujuh benar-benar menghilang secara gaib. Namun saya percaya bahwa legenda itu menyimpan potret batin masyarakat Siak: kecemasan mereka, nilai yang mereka jaga, dan cara mereka memberi makna pada sejarah yang mungkin tidak tercatat secara resmi.
Di era modern, kita sering menilai sesuatu hanya dari benar atau salah. Padahal, ada ruang besar di antara keduanya—ruang yang dihuni oleh makna, simbol, dan kebijaksanaan. Cerita Puteri Tujuh hidup di ruang itu. Ia mungkin bukan pengetahuan dalam arti ilmiah, tetapi tetap menjadi pengetahuan budaya. Ia mengajarkan bahwa masyarakat masa lalu tidak hanya menggunakan fakta, tetapi juga imajinasi untuk memahami dunia.
Saya percaya legenda seperti ini perlu dipertahankan, bukan untuk dipercaya secara mutlak, tetapi untuk terus dibaca dari berbagai sudut pandang: sosial, moral, dan tentu saja filosofis. Kisah seperti ini memperkaya cara kita memahami sejarah sendiri. Lebih penting lagi, ia mengingatkan bahwa kebenaran tidak selalu hadir dalam bentuk data atau catatan resmi. Kadang, kebenaran datang melalui cerita yang diwariskan untuk menjaga jati diri dan memberi arah bagi generasi berikutnya.
Dalam konteks itu, Puteri Tujuh bukan sekadar legenda. Ia adalah cermin yang mengajak kita melihat bagaimana masyarakat Melayu berpikir, merasa, dan menata pengetahuan. Selama cermin itu masih membantu kita memahami diri dan masa lalu, legenda ini layak dipertahankan sebagai bagian penting dari kebudayaan kita.***
Penulis : Zahratul Amri, Mahasiswi S2 Pendidikan Matematika UPI