Pekanbaru (CR) — Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Pekanbaru menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Riau, Jalan Sudirman, Pekanbaru, Rabu (13/5/2026). Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyuarakan berbagai tuntutan mulai dari kesejahteraan guru honorer, nasib buruh, transparansi anggaran daerah, hingga evaluasi program pemerintah.
Mahasiswa yang tergabung dalam aliansi “G-M13 Mei Melawan” berasal dari sejumlah kampus, di antaranya Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Universitas Abdurrab (UNIVRAB), Universitas Sains dan Teknologi Indonesia (USTI), Universitas Hang Tuah Pekanbaru (UHTP), Institut Agama Islam Diniyah (IAID), Universitas Awal Bros (UAB), Institut Kesehatan Payung Negeri (IKESPN), Institut Kesehatan Teknologi Al-Insyirah (IKTA), STIE Riau, STAI Al-Azhar Pekanbaru, IAI Lukman Edy, dan STP Riau.
Dalam aksi tersebut, massa secara bergantian menyampaikan orasi sambil membawa spanduk berisi tuntutan terkait pendidikan, kesejahteraan masyarakat, serta pengawasan anggaran pemerintah daerah.
Koordinator utama aksi, Rayhan Divaio, menyoroti masih rendahnya kesejahteraan guru honorer di Riau. Ia menyebut masih terdapat guru yang menerima gaji hanya Rp150 ribu per bulan.
“Masih ada guru di Riau bergaji Rp150 ribu sebulan. Ini sangat miris,” ujar Rayhan saat berorasi.
Menurut mahasiswa, kondisi tersebut bertolak belakang dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Mereka menilai peningkatan kualitas pendidikan tidak akan tercapai apabila kesejahteraan tenaga pengajar masih diabaikan.
Selain isu pendidikan, massa aksi juga menyoroti kesejahteraan buruh di Riau yang dinilai masih jauh dari layak. Mahasiswa menyebut banyak keluarga buruh masih menghadapi tekanan ekonomi di tengah meningkatnya kebutuhan hidup.

Aksi sempat memanas ketika mahasiswa menyinggung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Massa menilai pelaksanaan program tersebut masih belum optimal dan meminta pemerintah mengevaluasi pihak pengelola agar kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak sekolah benar-benar layak dan bergizi.
Koordinator aksi lainnya, Kukuh Elhakim, mengatakan demonstrasi tersebut merupakan bentuk keresahan masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial yang dinilai belum terselesaikan secara maksimal.
Dalam aksi itu, mahasiswa membawa sedikitnya 12 tuntutan kepada DPRD Provinsi Riau. Beberapa tuntutan utama di antaranya percepatan pengangkatan guru honorer menjadi PPPK secara transparan, pemerataan anggaran pendidikan hingga daerah 3T, keterbukaan penyaluran beasiswa pemerintah daerah, serta penolakan penghapusan sejumlah program studi perguruan tinggi.
Mahasiswa juga menyoroti sektor kesehatan dengan meminta pemerataan fasilitas rumah sakit di seluruh kabupaten dan kota di Riau serta keterbukaan data stunting terbaru oleh pemerintah daerah.
Selain itu, massa aksi meminta transparansi penggunaan hibah dana vertikal sebesar Rp113 miliar, termasuk anggaran pembangunan Rumah Sakit Bhayangkara, rumah sakit TNI, hingga rumah dinas Kejaksaan Tinggi Riau. Mahasiswa bahkan menolak anggaran Rp9,8 miliar untuk pembangunan rumah dinas Kejati karena dinilai lebih baik dialokasikan untuk pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam bidang ketenagakerjaan, mahasiswa mendesak penghapusan sistem outsourcing dan meminta DPRD Riau membuka ruang dialog antara perusahaan dan kelompok buruh guna mencari solusi atas persoalan ketenagakerjaan di daerah.
Mahasiswa juga menilai sektor pariwisata Riau belum dikelola secara maksimal. Padahal, menurut mereka, potensi budaya dan destinasi wisata daerah dapat menjadi sumber peningkatan ekonomi masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda.
Aksi demonstrasi sempat ditemui anggota DPRD Riau, Abdullah dan Andi Darma Taufik. Namun massa meminta Ketua DPRD Riau, Kaderismanto, turun langsung menemui peserta aksi.
Selama aksi berlangsung, aparat kepolisian tampak berjaga dan membentuk barikade di depan Gedung DPRD Riau untuk mengantisipasi potensi kericuhan. Meski sempat berlangsung panas dengan sorakan dan orasi keras, situasi secara umum tetap berjalan tertib hingga sore hari.
Laporan : Tiyna
