JAKARTA,CATATANRIAU.COM,:– Organisasi lingkungan WALHI Riau, WALHI Kalimantan Barat dan Pantau Gambut dalam konferensi pers bersama di Jakarta pada 11 Maret 2026 mengungkapkan kekhawatiran serius terhadap meningkatnya kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut.
Fenomena ini dinilai tidak biasa karena terjadi ketika sebagian wilayah Indonesia masih berada dalam musim hujan.
Berdasarkan analisis Pantau Gambut, sedikitnya 5.490 titik panas terdeteksi di wilayah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) pada Januari 2026. Sementara pada Februari 2026 kembali muncul 5.114 titik panas di berbagai wilayah Sumatera dan Kalimantan. Data tersebut menunjukkan bahwa kebakaran gambut telah terjadi bahkan sebelum musim kemarau dimulai.
Sebaran titik panas memperlihatkan pola yang mengkhawatirkan. Dua provinsi dengan jumlah kebakaran tertinggi pada Februari 2026 adalah Riau dan Kalimantan Barat. Di Riau terdeteksi sekitar 2.890 titik panas, sementara di Kalimantan Barat tercatat sekitar 1.316 titik panas yang tersebar di berbagai kawasan gambut.
Konsentrasi titik api tersebut memperlihatkan bahwa ekosistem gambut yang telah lama mengalami degradasi masih sangat rentan terbakar. Kerusakan ekosistem yang terjadi akibat perubahan tata guna lahan serta aktivitas pembukaan lahan dinilai menjadi faktor utama yang memperparah kondisi tersebut.
Analisis lebih lanjut dari Pantau Gambut juga menemukan bahwa sebagian titik panas muncul di wilayah konsesi perusahaan. Sedikitnya 1.080 titik panas terdeteksi di area konsesi perkebunan kelapa sawit atau Hak Guna Usaha (HGU), sementara sekitar 250 titik panas berada di konsesi hutan tanaman industri atau PBPH-HTI. Temuan ini menunjukkan bahwa kebakaran juga terjadi di wilayah yang secara hukum berada di bawah pengelolaan korporasi.
Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalimantan Barat, Indra Syahnanda menyampaikan bahwa peningkatan kebakaran dalam dua bulan terakhir telah memicu kemunculan kabut asap di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Kabut asap tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan warga.
Menurutnya, dampak kabut asap sudah mulai dirasakan masyarakat di lapangan. Bahkan terdapat laporan seorang warga yang meninggal dunia yang diduga berkaitan dengan dampak kebakaran hutan dan lahan tersebut. Kondisi ini memperlihatkan bahwa karhutla tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan publik.
Sementara itu Direktur Eksekutif WALHI Riau, Eko Yunanda menjelaskan bahwa kebakaran di Riau banyak terjadi di pulau-pulau kecil yang didominasi ekosistem gambut. Beberapa wilayah yang sering terdampak antara lain Pulau Bengkalis, Pulau Rupat dan Pulau Mendol.
Ia menilai pulau-pulau tersebut dalam beberapa dekade terakhir mengalami perubahan besar akibat pembukaan lahan dan ekspansi konsesi. Kondisi itu membuat kawasan gambut menjadi semakin kering dan mudah terbakar, terutama ketika terjadi gangguan kecil seperti pembakaran lahan.
Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena proyeksi iklim tahun ini menunjukkan potensi kemarau lebih cepat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal di sekitar 46 persen wilayah Indonesia, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus.
Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian menegaskan bahwa munculnya ribuan titik api sejak awal tahun harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak.
Menurutnya, jika kebakaran sudah terjadi bahkan saat musim hujan, itu menandakan kerentanan ekosistem gambut telah mencapai tingkat yang sangat tinggi.
Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu segera memperkuat langkah pencegahan sejak dini. Upaya tersebut meliputi peningkatan perlindungan kawasan gambut, pengawasan ketat di wilayah konsesi perusahaan, serta percepatan pemulihan ekosistem gambut yang telah mengalami kerusakan agar kebakaran hutan dan lahan tidak terus berulang setiap tahun. ****
