Pekanbaru, Catatanriau.com – Aksi sosial Nanda, seorang aktivis dan relawan jalan rusak di Provinsi Riau, mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Melalui akun TikTok @relawan.jalan.rusak, ia membagikan momen terakhirnya menambal jalan berlubang di kawasan Okura, Kecamatan Rumbai Timur, Kota Pekanbaru. Video tersebut viral dengan capaian lebih dari 800 ribu kali ditonton, belasan ribu suka, serta ratusan kali dibagikan.
Dalam video itu, Nanda terlihat membakar peralatan sederhana yang biasa ia gunakan untuk menambal jalan, seperti gerobak kayu dan rambu-rambu lalu lintas. Sambil meluapkan kekecewaannya, ia mengatakan bahwa dirinya sudah tidak ada gunanya lagi melakukan perbaikan jalan di lokasi tersebut karena mendapat teguran dari seorang oknum ketua RW setempat.

“Saya ditegur RW, katanya jalan ini tidak boleh diperbaiki. Nanti orang-orang naik motor jadi kencang-kencang,” ujar Nanda dalam video yang menuai beragam tanggapan warganet.
Kepada wartawan, Nanda menjelaskan bahwa kejadian tersebut berlangsung pada Minggu, 7 Desember 2025. Saat itu, ia tengah melakukan aksi penambalan jalan berlubang di jalan lintas Perawang–Pekanbaru, tepatnya di wilayah Kelurahan Tebing Tinggi Okura. Aksi tersebut dilakukannya secara sukarela dengan menggunakan dana pribadi, serta dukungan donasi dari para pengikutnya di TikTok dan YouTube.
Menurut Nanda, kondisi jalan yang rusak parah dan berlubang membuatnya tergerak untuk turun langsung memperbaiki. Namun, di tengah persiapan perbaikan, ia didatangi seorang oknum ketua RW yang melarang aktivitas tersebut.
“RW 04, inisial AN. Kejadiannya hari Minggu sore sekitar jam empat. Waktu itu kami hampir mulai memperbaiki jalan, lalu beliau datang dan bilang jalan ini tidak usah diperbaiki, biarkan saja. Alasannya karena kalau diperbaiki orang-orang jadi laju naik motor,” ujar Nanda menirukan ucapan RW tersebut.
Merasa heran, Nanda sempat mempertanyakan alasan itu. Ia menyinggung soal keselamatan pengguna jalan jika lubang dibiarkan. Namun, menurut pengakuannya, oknum RW tersebut justru merespons dengan nada kesal.
“Dia bilang, kalau orang pelan-pelan ya tidak akan jatuh,” tambah Nanda.
Nanda juga menceritakan bahwa kegiatan memperbaiki jalan rusak telah ia lakukan selama hampir dua tahun terakhir. Namun, penggunaan media sosial sebagai sarana dokumentasi dan kampanye baru aktif sekitar satu tahun belakangan.
“Sebelumnya aku perbaiki jalan tanpa kamera, tapi malah banyak masalah. Dari ormas-ormas ada yang tidak suka, bahkan sempat ada teror. Karena itu aku pakai media sosial untuk cari dukungan. Mental itu mudah jatuh kalau tidak ada yang menyemangati,” ungkapnya.
Selama dua tahun, Nanda mengaku telah menambal sekitar 79 lubang jalan di berbagai daerah di Riau. Lokasi yang paling banyak ditanganinya berada di Kabupaten Rokan Hulu, khususnya Kecamatan Kabun. Sementara di Kota Pekanbaru, aksi perbaikan baru ia lakukan sekitar dua minggu terakhir.
Menariknya, kawasan Okura yang menjadi lokasi polemik tersebut merupakan kampung halaman Nanda sendiri. Ia mengaku besar dan bersekolah di wilayah itu sejak SD hingga SMP, dan orang tuanya pun masih tinggal di sana.
“Ini kampungku sendiri. Aku sekolah di sini, orang tuaku juga di sini semua. Justru karena itu aku terpanggil untuk memperbaiki jalan,” tutupnya.
Viralnya aksi Nanda memunculkan dukungan luas dari masyarakat dan warganet yang menilai upaya perbaikan jalan secara swadaya seharusnya mendapat apresiasi, bukan justru larangan. Kasus ini pun membuka diskusi publik soal peran warga, pemerintah, serta aparat lingkungan dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan fasilitas umum.***
