Pelalawan, Catatanriau.com — Aksi protes Kesatuan Mahasiswa Peduli Kebijakan Sosial (KMPKS) yang digelar di depan Pos 2 PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) pada Selasa (05/08/2025), menyisakan kekecewaan mendalam. Bukannya mendapat tanggapan atau dialog terbuka, massa aksi justru diabaikan sepenuhnya oleh pihak manajemen perusahaan.
Puluhan mahasiswa yang turun ke lapangan harus berorasi di bawah terik matahari tanpa kehadiran satu pun perwakilan dari PT RAPP. Kantor perusahaan tertutup rapat, seolah-olah suara masyarakat tak layak didengar.
Sikap membisu ini dinilai KMPKS sebagai bentuk arogansi korporasi dan simbol nyata anti-kritik.
“Kami datang dengan data dan tuntutan nyata, bukan isu kosong. Tapi PT RAPP memilih diam dan bersembunyi. Ini bukan hanya tindakan tidak profesional, tapi juga bentuk penghinaan terhadap suara rakyat,” tegas Adrian Ahmad Juanda, koordinator lapangan aksi KMPKS.
Dalam aksi tersebut, KMPKS menyoroti tiga persoalan besar yang selama ini luput dari perhatian publik karena minimnya transparansi dari pihak perusahaan:
Polusi Debu dari Jalan Koridor PT RAPP
Truk-truk besar milik perusahaan yang melintasi jalan koridor memicu debu tebal, mencemari udara dan lingkungan desa-desa yang dilalui. Warga mengeluhkan gangguan pernapasan, tanaman rusak, dan kondisi lingkungan yang memburuk.
Tanaman Eucalyptus di Dataran Rendah
KMPKS mengkritik penanaman pohon Eucalyptus yang dikenal memiliki daya serap air tinggi dan tidak cocok ditanam di dataran rendah. Praktik ini dinilai bisa mempercepat kekeringan, merusak keseimbangan ekosistem, serta mengancam sumber air bersih warga sekitar.
Limbah Produksi yang Meresahkan
Diduga terdapat pengelolaan limbah yang tidak sesuai standar, baik dari sisa bahan mentah maupun limbah hasil produksi. Ini memicu keresahan masyarakat yang khawatir akan pencemaran tanah dan air di wilayah sekitar operasional PT RAPP.
KMPKS: Ini Baru Permulaan
Adrian menegaskan bahwa aksi ini bukan yang terakhir. KMPKS akan terus menggalang solidaritas masyarakat dan melakukan aksi lanjutan hingga PT RAPP bersedia membuka ruang dialog dan menunjukkan tanggung jawab lingkungan.
“Kami tidak akan berhenti. Jika PT RAPP terus menutup mata, telinga, dan hati, maka kami akan hadir lebih besar, lebih keras, dan lebih luas. Ini perjuangan untuk hidup yang layak, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk masa depan generasi mendatang,” seru Adrian lantang.
Lingkungan Bukan Milik Korporasi!
Aksi KMPKS mencerminkan keresahan masyarakat terhadap dominasi korporasi atas sumber daya alam tanpa kontrol yang memadai. Dalam seruannya, mahasiswa menegaskan bahwa lingkungan adalah milik rakyat, bukan untuk dimonopoli dan dieksploitasi demi keuntungan segelintir pihak.
Mereka menuntut PT RAPP untuk:
- Bertanggung jawab atas dampak operasionalnya,
- Menghentikan praktik bisnis yang merusak lingkungan dan sosial,
- Membuka ruang dialog dengan masyarakat dan aktivis lingkungan.
Untuk informasi atau laporan tambahan terkait dampak lingkungan di sekitar operasional PT RAPP, pembaca dapat menghubungi redaksi melalui email atau WhatsApp yang tertera di laman resmi kami.***
Laporan: Mutia
