Siak, Catatanriau.com – Suara tabuhan kompang menggema dari Gedung Batin Djaonang, Kantor Camat Minas, Kabupaten Siak, Riau, Selasa (6/10/2026). Puluhan pelajar dari berbagai sekolah tingkat SD dan SMP tampil membawa semangat untuk menjaga salah satu warisan seni budaya Melayu.
Pemerintah Kecamatan Minas menggelar Perlombaan Seni Kompang tingkat SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, sebagai bagian dari rangkaian memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Siak yang diperingati pada 12 Oktober 2026.
Mengusung semangat “Pelestarian Seni Budaya Melayu”, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang perlombaan antarsekolah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, memainkan dan meneruskan kesenian tradisional yang telah hidup di tengah masyarakat Melayu Siak secara turun-temurun.

Kompang merupakan salah satu kesenian musik tradisional Melayu berupa alat musik pukul berbentuk seperti gendang pipih. Di Siak, kompang dikenal dalam berbagai kegiatan adat dan budaya, termasuk pawai, mengarak pengantin serta pertunjukan seni tradisional. Pemerintah Kabupaten Siak juga menjadikan kompang sebagai salah satu bagian penting dari upaya memperkenalkan budaya Melayu kepada generasi muda.
Penelitian mengenai tradisi kompang di Kabupaten Siak, antara lain di Kampung Teluk Mesjid, Kecamatan Sungai Apit, menunjukkan bahwa kesenian tersebut masih digunakan masyarakat dalam berbagai upacara adat, khususnya perkawinan. Sementara penelitian tentang pewarisan kesenian kompang di Perawang, Kecamatan Tualang, menyebut kompang sebagai kesenian tradisional masyarakat Melayu dengan syair atau nyanyian yang bernuansa Islam.
Dalam perlombaan yang digelar Kecamatan Minas, setiap sekolah mengirimkan siswa terbaik mereka untuk tampil dan menunjukkan kemampuan memainkan kompang secara berkelompok.
Peserta yang tampil dalam kegiatan tersebut merupakan siswa laki-laki dari masing-masing sekolah se-Kecamatan Minas. Penggunaan peserta laki-laki dalam lomba ini merupakan format yang diterapkan pada kegiatan tersebut. Dalam praktik budaya Melayu, permainan kompang memang kerap dijumpai dalam kelompok laki-laki, terutama pada kegiatan adat dan pawai, namun hal itu tidak berarti perempuan secara umum dilarang memainkan kompang.

Kegiatan tersebut dihadiri Plh Kapolsek Minas AKP Martius Ashairi, S.H., para penghulu kampung dan lurah, seluruh kepala sekolah tingkat SD dan SMP, serta para pelajar peserta lomba.
Camat Minas, Nurfa Octolita, S.E., M.IP., mengatakan lomba tersebut sengaja digelar sebagai bagian dari perayaan HUT Kabupaten Siak sekaligus menjadi sarana memperkenalkan budaya Melayu kepada anak-anak sejak usia sekolah.
“Pelaksanaan lomba kompang tingkat SD dan SMP ini dalam rangka memeriahkan HUT Kabupaten Siak yang ke-27. Di sini kita mengenalkan anak-anak SD dan SMP tentang budaya Melayu yang ada di Kabupaten Siak,” kata Nurfa.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni atau pertunjukan sesekali. Generasi muda harus diberikan ruang untuk terlibat langsung sehingga mereka tidak hanya mengetahui nama kesenian tradisional, tetapi juga mampu mempraktikkannya.
Karena itu, setiap sekolah diminta mengirimkan siswa terbaiknya untuk mengikuti perlombaan tersebut.
“Jadi anak-anak ini kita libatkan langsung. Mereka bukan hanya melihat, tetapi mereka belajar memainkan kompang, belajar kekompakan dan mengenal seni budaya Melayu yang ada di daerah kita,” ujarnya.

Nurfa menjelaskan, kegiatan perlombaan tersebut dilaksanakan selama satu hari. Seluruh rangkaian perlombaan dipusatkan di Gedung Batin Djaonang, Kantor Camat Minas.
“Pelaksanaannya satu hari saja dan dilaksanakan hari ini,” katanya.
Ia berharap kegiatan sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga eksistensi seni budaya Melayu di tengah perkembangan zaman.
Menurut Nurfa, pelajar merupakan salah satu kelompok penting dalam proses pewarisan kebudayaan. Jika generasi muda sejak dini sudah dikenalkan dengan kesenian daerah, maka peluang budaya tersebut untuk tetap hidup di masa mendatang akan semakin besar.
“Harapannya, dengan adanya lomba ini, budaya dan seni budaya yang ada di Kabupaten Siak, khususnya di Kecamatan Minas, terus terjaga,” ungkapnya.
Lebih jauh, lomba kompang tersebut juga menjadi momentum mempererat kebersamaan antarsekolah dan antarpelajar di Kecamatan Minas. Kekompakan dalam memainkan kompang menuntut setiap peserta mampu mengikuti irama dan menjaga keserasian permainan kelompok.
Hal itu sekaligus menjadi pesan yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut: bahwa menjaga kebudayaan bukan pekerjaan satu pihak, melainkan membutuhkan keterlibatan bersama, termasuk sekolah, pemerintah, masyarakat dan generasi muda.
Bagi Kecamatan Minas, tabuhan kompang yang menggema di Gedung Batin Djaonang hari itu bukan sekadar suara alat musik tradisional. Di balik setiap ketukan, terdapat upaya memperkenalkan kembali identitas Melayu kepada anak-anak yang kelak menjadi generasi penerus Kabupaten Siak.
Kegiatan itu pun menjadi bagian dari semangat menyambut HUT ke-27 Kabupaten Siak, sekaligus menghidupkan tema pelestarian seni budaya Melayu melalui keterlibatan langsung para pelajar.***
