Pekanbaru, Catatanriau.com — Persoalan kekosongan dokter spesialis di sejumlah rumah sakit umum daerah (RSUD) di Kabupaten Bengkalis menjadi perhatian Komisi IV DPRD Bengkalis. Kondisi tersebut dinilai perlu segera dicarikan solusi karena turut memengaruhi pelayanan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan dokter spesialis.
Hal tersebut disampaikan Komisi IV, saat melakukan pertemuan bersama Dinas Kesehatan Provinsi Riau di Aula Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Kamis (27/8/2026).
Ketua Komisi IV Irmi Syakip mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir pihaknya menerima sejumlah aduan masyarakat terkait kekosongan dokter spesialis di beberapa rumah sakit, terutama RSUD Bengkalis yang menjadi salah satu tumpuan utama masyarakat di Pulau Bengkalis dalam memperoleh pelayanan kesehatan.
Ia menyebutkan, terdapat tiga dokter spesialis yang sangat dibutuhkan di RSUD Bengkalis, yakni dokter spesialis mata, rehabilitasi medik, dan radiologi. Persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama sehingga diperlukan langkah dan dukungan dari berbagai pihak untuk mencari solusi.
“Kami meminta dukungan dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau agar ada petunjuk bagi Kabupaten Bengkalis untuk memenuhi kelangkaan dokter spesialis ini, apakah melalui kerja sama atau skema lainnya,” katanya.
Menurutnya, persoalan ketersediaan dokter spesialis tidak hanya terjadi di RSUD Bengkalis. Kondisi RSUD Mandau dan RSUD Rupat juga menjadi perhatian, terutama dalam memenuhi kebutuhan dokter spesialis tertentu. Kekosongan tersebut menyebabkan sejumlah pasien harus dirujuk ke rumah sakit di Pekanbaru sehingga menambah beban pasien dan keluarga, baik dari sisi biaya maupun jarak tempuh.
“Pasien yang harus dirujuk ke Pekanbaru tentu terbebani dengan biaya dan jarak tempuh yang cukup jauh. Apalagi untuk pasien yang membutuhkan penanganan segera,” jelasnya.
Selain itu, kekosongan dokter spesialis rehabilitasi medik juga berdampak terhadap pelayanan fisioterapi. Tanpa dokter spesialis rehabilitasi medik, tindakan fisioterapi terhadap pasien tidak dapat dilakukan secara optimal karena diperlukan penegakan diagnosis dan rekomendasi medis.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis, Akna Juwita, membenarkan bahwa Kabupaten Bengkalis masih mengalami kekurangan dokter spesialis. Kondisi di RSUD Rupat menjadi salah satu perhatian karena belum memiliki dokter spesialis dan saat ini hanya didukung dokter umum.
Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Bengkalis, dr. Ricky, menjelaskan bahwa saat ini RSUD Bengkalis memiliki 27 dokter spesialis. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, salah satunya melalui kerja sama dengan Universitas Sumatera Utara dengan mendatangkan dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) untuk bidang anestesi, radiologi, dan mata. Namun, dokter PPDS tersebut masih berstatus pendidikan sehingga belum dapat menjadi penanggung jawab pelayanan secara penuh.
“Dokter radiologi PPDS belum dapat dijadikan penanggung jawab karena masih dalam pendidikan,” jelasnya.
Menurut dr. Ricky, keberadaan dokter spesialis rehabilitasi medik sangat penting untuk menegakkan diagnosis sekaligus menentukan terapi bagi pasien. Ia juga menyoroti dampak rujukan pasien ke Pekanbaru yang membutuhkan waktu perjalanan cukup panjang, khususnya bagi masyarakat Pulau Bengkalis.
RSUD Bengkalis juga telah mengusulkan kebutuhan dokter melalui program Pendayagunaan Dokter Spesialis (PGDS). Namun, hingga kini belum ada dokter yang ditempatkan melalui program tersebut. Menurutnya, fasilitas dan tunjangan yang ditawarkan menjadi salah satu pertimbangan dokter spesialis untuk bertugas di suatu daerah.
Adapun RSUD Mandau saat ini memiliki 41 dokter spesialis dan secara umum kebutuhan dokter spesialis sudah hampir lengkap. Namun, masih terdapat kekosongan dokter spesialis bedah urologi dan bedah saraf. Pasien yang membutuhkan kedua layanan tersebut masih harus dirujuk ke Pekanbaru.***
