Dumai, Catatanriau.com – Di ujung pesisir Kota Dumai, tempat debur ombak Selat Malaka tak pernah berhenti menyapa daratan, Merah Putih kembali berkibar membawa harapan. Jalan berlumpur, medan yang sulit, hingga jauhnya akses menuju pelosok tak menjadi penghalang bagi pengabdian. Di sanalah negara hadir melalui langkah-langkah sederhana yang penuh makna—menyapa anak-anak, menjaga lingkungan, dan meneguhkan kedaulatan bangsa.
Semangat itulah yang mewarnai Ekspedisi Merah Putih Polri yang digelar Polsek Sungai Sembilan di Kampung Teluk Dalam, Kelurahan Batu Teritip, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai, Minggu (2/8/2026). Dipimpin langsung Kapolsek Sungai Sembilan, IPTU Apriadi, S.H., M.H., rombongan menembus jalan berlubang dan berlumpur demi menjangkau dua kelas jauh, yakni SDN 020 Teluk Dalam dan SDN 020 Selayang Pandang.

Kedatangan rombongan langsung disambut hangat oleh puluhan siswa. Ruang kelas sederhana berdinding papan dan beratapkan seng seketika dipenuhi tawa dan sorak kegembiraan. Anak-anak berbaju merah putih yang mulai memudar warnanya duduk melingkar bersama para personel kepolisian, berbincang tentang cita-cita yang mereka simpan sejak kecil.
Ada yang ingin menjadi polisi, guru, tentara, bahkan presiden. Dengan penuh kehangatan, Kapolsek menyemangati mereka agar tidak pernah menyerah mengejar impian.
"Kalian adalah masa depan bangsa. Jangan pernah berhenti bermimpi, karena mimpi tidak mengenal jarak dan keterbatasan," ujar IPTU Apriadi sembari menepuk pundak salah seorang siswa.
Ucapan sederhana itu menghadirkan senyum di wajah-wajah polos mereka, seolah menjadi penegas bahwa anak-anak di pelosok negeri tidak pernah dilupakan.
Suasana semakin mengharukan ketika bendera Merah Putih yang telah robek dan kusam di halaman sekolah diturunkan dengan penuh penghormatan. Kapolsek kemudian menggantinya dengan bendera baru yang perlahan berkibar gagah diterpa angin pesisir.
Dalam keheningan upacara sederhana itu, seorang guru tak mampu menyembunyikan air matanya. Sementara para siswa menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan suara lantang meski terdengar serak.
Bagi masyarakat Teluk Dalam, bendera baru itu bukan sekadar selembar kain merah dan putih. Ia menjadi simbol kehadiran negara yang tetap menjaga denyut kebangsaan hingga ke wilayah paling terpencil.
Pada kesempatan yang sama, Polsek Sungai Sembilan juga menyerahkan santunan berupa uang belanja sekolah kepada anak-anak yatim sebagai bentuk kepedulian agar mereka tetap bersemangat melanjutkan pendidikan.
Perjalanan pengabdian kemudian berlanjut ke kawasan pesisir yang menghadap langsung ke Selat Malaka. Bersama para siswa, guru, dan tokoh masyarakat, personel Polri menanam 50 bibit mangrove di sepanjang garis pantai yang mulai terdampak abrasi.
Cangkul membelah lumpur, tangan-tangan kecil membantu menegakkan bibit, sementara tawa anak-anak berpadu dengan semangat gotong royong yang terasa begitu hangat.
"Kami tanam hari ini untuk anak cucu kami. Mangrove adalah benteng terakhir kita," ujar seorang tokoh adat dengan mata berkaca-kaca.
Setiap bibit yang ditanam bukan hanya upaya menjaga lingkungan, tetapi juga menjadi simbol kepedulian terhadap masa depan generasi penerus.
Rangkaian ekspedisi ditutup dengan kegiatan yang sarat makna di dermaga nelayan. Di bawah terik matahari, personel Polsek Sungai Sembilan memasang Bendera Merah Putih di kapal-kapal nelayan yang setiap hari mengarungi perairan Selat Malaka.
Kapal-kapal itu bukan sekadar alat mencari nafkah, tetapi juga menjadi wajah Indonesia di wilayah perbatasan laut. Dengan Merah Putih yang berkibar di setiap tiangnya, kapal-kapal tersebut menjadi simbol nyata kehadiran negara dan penegasan kedaulatan bangsa.
"Sekarang kami berani melaut lebih jauh. Bendera ini mengingatkan bahwa kami adalah tuan di laut sendiri," ungkap seorang nahkoda nelayan dengan penuh kebanggaan.
Menjelang senja, sebelum meninggalkan Kampung Teluk Dalam, IPTU Apriadi menyampaikan pesan yang merangkum seluruh makna perjalanan tersebut.
"Ekspedisi Merah Putih ini adalah bukti bahwa pengabdian Polri tidak mengenal batas. Kami ingin anak-anak di pelosok merasakan pelukan negara, kami ingin mangrove menjadi saksi kepedulian terhadap lingkungan, dan kami ingin bendera di kapal nelayan menjadi suar kedaulatan yang tak pernah padam. Jauh dari gemerlap kota, semangat Merah Putih harus tetap berkibar. Karena Polri hadir untuk masyarakat, di mana pun dan kapan pun."
Saat rombongan meninggalkan Teluk Dalam, jejak-jejak pengabdian itu tak ikut pergi. Ia tertinggal bersama mangrove yang mulai berakar di pesisir, bersama Merah Putih yang berkibar gagah di halaman sekolah dan kapal-kapal nelayan, serta bersama mimpi anak-anak yang kini tumbuh semakin tinggi, setinggi langit Indonesia.***
