Catatanriau.com — Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di kawasan Nol Kilometer, Yogyakarta, Kamis sore, 30 Juli 2026.
Aksi ini menjadi wujud kritik terhadap arah kebijakan pemerintah pusat yang dinilai bertolak belakang dengan kondisi masyarakat di akar rumput. Massa membentangkan spanduk raksasa bertuliskan "Tegakkan Supremasi Sipil, Tolak Militerisme" dan menyampaikan peringatan kepada Presiden Prabowo Subianto agar kekuasaan dijalankan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.
Ukur Keberhasilan dari Kesejahteraan Rakyat, Bukan Angka Semata
Koordinator Pusat BEM Nusantara, Muhammad Sardani, menegaskan bahwa keberhasilan negara tidak bisa hanya diukur dari megahnya infrastruktur atau tingginya pertumbuhan ekonomi.
"Ukuran sesungguhnya adalah apakah rakyat memperoleh pendidikan yang adil, apakah hukum berani menyentuh mereka yang merampas kekayaan bangsa, apakah sungai, tanah, dan ruang hidup rakyat terlindungi, dan apakah ekonomi rakyat diperkuat," ujar Sardani di lokasi aksi.
Suara dari Daerah: Kerusakan Ekologis di Riau
Semangat aksi menguat saat Syahradi Ramatul, Presiden Mahasiswa BEM Universitas Hang Tuah Pekanbaru sekaligus putra daerah Siak, Riau, menyampaikan orasinya.
"Riau adalah bumi bertuah yang terus diperas sumber daya alamnya. Hutan kita ditebang hanya untuk dikonversi menjadi angka keuntungan segelintir oligarki. Sungai Siak tercemar mengalirkan duka, dan minyak bumi disedot hingga rahim bumi menganga. Namun anak negeri justru hidup dalam nestapa di tengah mahalnya pendidikan dan sulitnya akses keadilan," tegas Syahradi.
Sebagai pemuda yang tumbuh di sepanjang aliran Sungai Siak, ia menyoroti regulasi pusat yang dinilai menutup mata terhadap kerusakan daerah demi keuntungan ekonomi kelompok tertentu.
Protes sebagai Bentuk Cinta Tanah Air
BEM Nusantara menegaskan aksi ini murni lahir dari tanggung jawab moral dan kecintaan kepada NKRI, bukan tunggangan politik praktis.
"Kami berdiri di sini bukan karena benci pada republik ini. Justru karena kami mencintai Indonesia dan Riau, kami menolak diam melihat tanah kami dihancurkan," kata Syahradi menutup orasinya.***
Laporan : Tiyna
