Rohul, Catatanriau.com — Selama hampir empat dekade, rumah sederhana itu nyaris tak pernah dipenuhi tawa. Pintu lebih sering tertutup, sementara pemiliknya, Syukur (69), memilih menjalani hari-harinya seorang diri. Bukan karena tak ingin bersosialisasi, melainkan karena luka yang terlalu dalam membuatnya kehilangan semangat untuk kembali menyapa kehidupan.
Di balik wajah yang mulai dimakan usia, tersimpan kisah pilu yang tak mudah dilupakan. Saat membangun rumah tangga, Syukur dan istrinya menaruh harapan besar pada kelahiran anak pertama. Namun, kebahagiaan itu sirna ketika sang bayi tak berhasil diselamatkan. Dua tahun kemudian, harapan kembali tumbuh melalui kehamilan kedua. Takdir kembali berkata lain. Bayi yang dilahirkan meninggal dunia, meninggalkan duka yang semakin dalam.
Puncak cobaan datang tiga tahun kemudian. Saat mengandung anak ketiga, istri tercinta meninggal dunia dalam proses persalinan. Empat hari setelah kepergian sang ibu, bayi yang sempat menjadi secercah harapan itu juga mengembuskan napas terakhir.
Dalam waktu singkat, Syukur kehilangan seluruh keluarganya. Sejak saat itu, hidupnya berubah. Ia menutup pintu rumah, menjauh dari keramaian, dan menghabiskan hari-harinya dalam kesunyian. Hampir 40 tahun lamanya, ia memendam luka tanpa pernah benar-benar mampu bangkit.
Keheningan itu akhirnya pecah ketika seorang Bhabinkamtibmas Desa Koto Tinggi Bripka Nasrul Jamil datang mengetuk pintu rumahnya. Kamis (23/7/2026). Tanpa seremonial, tanpa pidato, apalagi menghakimi. Anggota Polri tersebut memilih duduk berdampingan dengan Syukur, mendengarkan kisah hidupnya yang selama puluhan tahun tersimpan rapat.
Percakapan sederhana tentang kehilangan, keikhlasan, dan harapan menjadi awal dari perubahan yang tak pernah dibayangkan. Perlahan, tembok kesedihan yang membelenggu hati Syukur mulai runtuh. Wajah yang selama ini dipenuhi kesedihan berubah lebih teduh.
Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, senyum kembali menghiasi wajahnya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa tugas kepolisian tidak hanya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Lebih dari itu, kehadiran polisi juga menghadirkan kepedulian, empati, dan harapan bagi warga yang sedang memikul beban kehidupan.
Apa yang dilakukan Bhabinkamtibmas kepada Syukur mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi seorang lelaki yang hampir 40 tahun hidup dalam trauma dan kehilangan, kepedulian itu menjadi cahaya yang perlahan mengusir gelap. Karena pada akhirnya, menjaga kamtibmas bukan hanya tentang menciptakan lingkungan yang aman, tetapi juga memastikan setiap warga tetap memiliki harapan untuk melanjutkan hidup.***
