PELALAWAN,CATATAN RIAU.COM,:— Kemacetan panjang kembali terjadi di ruas Jalan Lintas Timur (Jalintim) Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, khususnya di kawasan Kilometer 73 hingga Kilometer 84. Proyek peninggian badan jalan dan pembangunan box culvert yang tengah berlangsung menyebabkan penyempitan jalur lalu lintas sehingga arus kendaraan harus diatur dengan sistem buka-tutup.
Akibatnya, antrean kendaraan kerap mengular hingga beberapa kilometer dan memakan waktu berjam-jam.
Pada Rabu (10/6/2026), kondisi tersebut kembali menimbulkan keluhan dari para pengguna jalan. Salah satunya dirasakan rombongan wartawan yang harus terjebak kemacetan selama kurang lebih tiga jam saat melintasi lokasi proyek. Situasi ini dinilai sangat mengganggu mobilitas masyarakat maupun aktivitas ekonomi yang bergantung pada kelancaran transportasi di jalur utama penghubung antarwilayah tersebut.
Berdasarkan informasi di lapangan, proyek peninggian badan jalan tersebut diperkirakan berlangsung hingga tahun 2027 sesuai masa kontrak pekerjaan. Selama proses pembangunan, sebagian badan jalan digunakan untuk aktivitas konstruksi sehingga kendaraan dari dua arah harus bergantian melintas melalui jalur yang tersedia dengan pengaturan petugas.
Kemacetan semakin parah ketika sejumlah pengendara tidak sabar menunggu giliran dan mencoba menerobos antrean kendaraan. Kondisi ini sering memicu penyumbatan arus lalu lintas dari dua arah sekaligus sehingga menyebabkan kemacetan total yang membutuhkan waktu lama untuk diurai kembali oleh petugas di lapangan.
Selain itu, kendaraan berat yang membawa muatan melebihi dimensi bodi kendaraan turut menjadi salah satu faktor penghambat kelancaran lalu lintas. Pada beberapa kesempatan, kendaraan besar mengalami kesulitan melintasi jalur yang menyempit, bahkan tidak jarang terjadi kerusakan kendaraan di tengah antrean yang memperburuk kondisi kemacetan.
Kasat Lantas Polres Pelalawan, Tatit Rizkyan, STK SIK MH telah menyiagakan personel di lokasi proyek untuk mengatur arus lalu lintas. Selain melakukan pengamanan dan pengaturan kendaraan, petugas juga secara rutin melakukan penertiban serta penindakan terhadap pengendara yang melanggar batas antrean guna mencegah terjadinya kemacetan yang lebih parah.
Meski berbagai upaya telah dilakukan aparat kepolisian, masyarakat berharap kontraktor pelaksana proyek dapat meningkatkan pengawasan dan manajemen pekerjaan di lapangan. Optimalisasi pengaturan alat berat, percepatan pekerjaan pada titik-titik kritis, serta koordinasi yang lebih intensif dengan pihak terkait dinilai penting untuk mengurangi dampak kemacetan yang dirasakan pengguna jalan setiap hari
Keluhan juga datang dari sopir angkutan sampah yang melayani rute menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kemang. Mereka mengaku harus menghadapi antrean panjang akibat sistem buka-tutup jalan yang masih berlangsung.
“Saat ini jalur menuju TPA Kemang masih dilakukan buka tutup jalan. Antrian bisa mencapai satu hingga dua jam sekali jalan. Jika pulang-pergi, waktu yang terbuang bisa mencapai tiga sampai empat jam,” ujar salah seorang sopir di lokasi.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi kelancaran pelayanan publik dan aktivitas logistik di Kabupaten Pelalawan, sehingga diperlukan langkah-langkah strategis agar pembangunan infrastruktur tetap berjalan tanpa menghambat mobilitas masyarakat secara berlebihan.****
