Dumai, Catatanriau.com – Kemunculan sejumlah harimau di kawasan perkebunan sawit PT Ruas Utama Jaya (RUJ), tepatnya di wilayah Pandawa yang berbatasan langsung antara Kota Dumai dan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Dalam tiga bulan terakhir, satwa liar yang dilindungi tersebut kerap terlihat berkeliaran di sekitar area perkebunan dan hutan.
Seorang warga, Fernando Tampubolon, mengaku pernah berpapasan langsung dengan harimau tersebut saat berada di kawasan kebun. Bahkan, ia berhasil mengabadikan momen langka itu menggunakan kameranya.
“Jumlahnya diduga lebih dari satu ekor,” ujar Fernando, Sabtu (6/6/2026).
Tidak hanya penampakan langsung, warga juga sering menemukan jejak tapak kaki serta mendengar auman harimau saat melintas menuju kebun. Kondisi ini membuat masyarakat semakin waspada, terutama para petani dan pekerja perkebunan yang setiap hari beraktivitas di kawasan tersebut.
Ternak Warga Jadi Incaran
Kehadiran harimau di sekitar perkebunan tidak hanya menimbulkan rasa takut, tetapi juga mengancam mata pencaharian warga. Beberapa hewan ternak seperti kambing dan sapi dilaporkan menjadi sasaran predator tersebut, terutama pada malam hari.
Akibatnya, banyak warga memilih meningkatkan pengawasan terhadap ternak mereka demi menghindari serangan satwa liar.
Muncul Berbagai Spekulasi
Tokoh masyarakat setempat, Wak Endek, mengatakan kemunculan harimau di kawasan itu memicu beragam spekulasi di tengah warga.
“Ada yang mengatakan karena aktivitas pemanenan akasia. Ada juga yang mengaitkannya dengan adanya pasangan yang berbuat tidak senonoh di pondok kawasan hutan,” ujarnya.
Terlepas dari berbagai anggapan yang berkembang, masyarakat berharap persoalan ini dapat ditangani secara ilmiah dan profesional oleh pihak berwenang.
Jadi Topik Hangat di Tengah Masyarakat
Perbincangan mengenai “Mbah Belang”—julukan yang diberikan warga kepada harimau tersebut—kini menjadi topik utama dalam berbagai pertemuan masyarakat, termasuk saat berkumpul usai kegiatan wirid.
Warga RT 18 Kelurahan Tanjung Penyembal, Kecamatan Sungai Sembilan, mengaku terus dihantui kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar.
Warga Desak BKSDA Segera Bertindak
Masyarakat mendesak pihak terkait, khususnya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), untuk segera turun ke lapangan guna melakukan pemantauan dan penanganan.
Warga khawatir jika keberadaan harimau terus dibiarkan tanpa langkah mitigasi yang jelas, maka risiko konflik dengan manusia akan semakin besar dan berpotensi menimbulkan korban jiwa.
“Kami meminta BKSDA segera datang ke lokasi, melakukan evaluasi, serta mengambil langkah-langkah yang humanis agar harimau tidak lagi memasuki area pemukiman maupun perkebunan warga,” kata salah seorang warga.
Polsek Sungai Sembilan Diminta Beri Imbauan Keselamatan
Selain meminta tindakan dari BKSDA, masyarakat juga berharap Polsek Sungai Sembilan segera mengeluarkan imbauan resmi terkait keselamatan warga.
Imbauan tersebut dapat disampaikan melalui pemasangan spanduk, poster, media sosial, maupun pengumuman keliling agar masyarakat memahami langkah-langkah yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan satwa liar.
Masbro alias Ngatiman, salah seorang warga yang mengaku pernah mendengar langsung auman harimau, menilai sosialisasi keselamatan harus segera dilakukan.
“Kami minta Polsek Sungai Sembilan segera memberikan imbauan. Jangan sampai ada warga yang tidak mengetahui situasi ini lalu tetap beraktivitas seperti biasa, terutama memancing pada malam hari. Itu sangat berbahaya,” tegasnya.
Menunggu Respons Resmi
Warga berharap kehadiran BKSDA dan langkah cepat dari aparat kepolisian dapat mengurangi kecemasan masyarakat sekaligus mencegah terjadinya konflik antara manusia dan harimau.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak BKSDA maupun Polsek Sungai Sembilan belum memberikan tanggapan resmi terkait desakan masyarakat tersebut.***
