Dumai, Catatanriau.com — Hujan deras yang mengguyur Kota Dumai sejak pukul 00.30 WIB dini hari, Rabu (13/5/2026), tidak kunjung reda. Intensitas hujan yang terus-menerus menyebabkan debit air sungai meningkat drastis dan merendam ratusan rumah warga di Kelurahan Lubuk Gaung. Ketinggian air bervariasi, dengan area terparah mencapai sepinggang orang dewasa, memaksa warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Tokoh agama sekaligus warga RT 19 Kelurahan Lubuk Gaung, Misni, menyayangkan program pemerintah yang membersihkan parit dan sungai sepanjang berkilo-kilometer. Menurutnya, pengerjaan hanya terfokus di bagian hulu tanpa memperhatikan kondisi hilir. Padahal, kekhawatiran tersebut sudah ia sampaikan sejak awal program dimulai. Kini, ucapannya tentang potensi banjir besar terjawab sudah setelah air meluap dan merendam pemukiman warga.
Hal serupa terjadi di wilayah Jalan Pu Lama, Kelurahan Lubuk Gaung. Norman, mantan ketua RT 015, mengatakan bahwa air sungai meluap dan masuk hingga ke dalam rumah-rumah warga, merusak perabotan dan dokumen penting. Dampak banjir juga dirasakan di beberapa RT di Kelurahan Tanjung Penyembal, khususnya di wilayah bantaran sungai. Warga terpaksa mengevakuasi kendaraan dan hewan ternak ke dataran yang lebih aman.
Kondisi banjir kian mencekam bagi warga RT 03, Jalan SMU, Kelurahan Tanjung Penyembal. Selain genangan air, mereka juga dihadapkan pada ancaman buaya yang beberapa bulan terakhir kerap muncul dan menampakkan diri di bantaran sungai. Suyono, seorang warga setempat, mengaku semakin was-was setiap kali air naik karena ketakutan akan serangan buaya yang mungkin masuk ke pemukiman.
Masyarakat mendesak pemerintah agar tidak hanya fokus pada hulu, tetapi juga memperhatikan hilir atau kuala yang menjadi penyebab lambatnya air hujan menuju laut. Berdasarkan pantauan aplikasi fishing point pada 13 Mei 2026, tinggi pasang air laut tercatat tidak signifikan, hanya 0,7 meter, namun pasang rendah memperlambat aliran air keluar ke laut.
Warga berharap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Dumai lebih fokus ke kuala-kuala sungai. Pendekatan yang hanya mengeruk hulu tanpa membenahi hilir dinilai tidak akan menyelesaikan akar masalah banjir. “Kami dukung program pemerintah, tetapi jangan setengah-setengah. Harus dipikirkan dulu dampak dan akibatnya,” tutur seorang warga yang kecewa.
Terlebih, informasi dari warga menyebutkan bahwa muara sungai saat ini mengalami pendangkalan, khususnya di lokasi muara Sungai Nerbit Kecil yang tidak bisa dijangkau masyarakat karena berada dalam penguasaan tembok beton milik perusahaan Sinar Mas Group. Masyarakat pun hanya bisa berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki aliran sungai dari hulu hingga ke muara.***
