Menilai Performa Pemain Sepak Bola Lewat Data, Bukan Sekadar Naluri

Menilai Performa Pemain Sepak Bola Lewat Data, Bukan Sekadar Naluri

Rohul, Catatanriau.com – Penilaian terhadap performa pemain sepak bola selama ini kerap bertumpu pada hal-hal yang paling mudah terlihat, seperti gol, assist, atau aksi yang masuk tayangan ulang. 
"Pemain yang sering muncul di highlight dianggap hebat, sementara pemain lain perlahan terlupakan," ungkap penulis yang merupakan penikmat sepak bola sekaligus peneliti data. Mahasiswa Magister Informatika (Data Sains), Universitas Islam Indonesia Muammar. Pada Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, cara pandang tersebut terasa wajar hingga ia mulai mendalami analisis data. Saat menempuh pendidikan magister di bidang data sains, ia menyadari bahwa banyak kontribusi penting dalam sepak bola tidak pernah masuk sorotan kamera.

"Pemain yang rajin memotong serangan, menjaga ritme permainan, atau membuka ruang bagi rekan setim sering kali bekerja dalam diam, padahal justru merekalah yang membuat tim tetap berjalan," ujarnya.

Kesadaran itu mendorongnya meneliti performa pemain sepak bola dengan pendekatan analisis data dan machine learning. Ia menilai, dalam praktiknya penilaian pemain masih sering bergantung pada statistik dasar dan intuisi.

"Padahal sepak bola modern menghasilkan data yang sangat kaya, mulai dari akurasi umpan, intersepsi, kontribusi bertahan, hingga keterlibatan pemain dalam penguasaan bola," tambah Muammar.

Ia menegaskan, persoalan utama bukan terletak pada kurangnya data, melainkan pada cara memahaminya. Tanpa pendekatan yang tepat, data hanya akan menjadi deretan angka tanpa makna. Dalam penelitian tersebut, ia menggunakan metode clustering dengan algoritma K-Means untuk mengelompokkan pemain berdasarkan kemiripan performa statistik.

"Pendekatan ini bukan untuk menentukan siapa yang terbaik atau terburuk, melainkan untuk memahami pola kontribusi pemain dalam tim." tegasnya.

Data performa pemain musim 2024–2025 dianalisis dari berbagai aspek menyerang dan bertahan, lalu dinormalisasi agar setiap indikator memiliki pengaruh yang seimbang. Dengan normalisasi, satu statistik seperti gol tidak mendominasi penilaian.

Hasil analisis memberikan perspektif baru. Pemain yang sebelumnya terlihat biasa saja ternyata masuk dalam kelompok pemain dengan kontribusi yang sangat konsisten dan penting bagi keseimbangan tim. Dari proses tersebut, ia menyimpulkan bahwa sepak bola lebih tepat dipahami sebagai sebuah sistem, bukan sekadar panggung individu.

"Analisis data bukan untuk menggantikan intuisi pelatih, menggantikan intuisi pelatih
tetapi untuk melengkapi pengambilan keputusan dengan dasar yang lebih rasional." pungkasnya.

Di era sepak bola modern yang sarat emosi dan drama, data kini menjadi bahasa baru untuk memahami permainan secara lebih objektif.

"Mungkin sudah saatnya kita berhenti menilai pemain hanya dari apa yang terlihat di layar televisi, karena di balik setiap gol, ada pekerjaan sunyi yang layak untuk dihargai," tutup nya.***

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index