Pekanbaru, Catatanriau.com – Ratusan mahasiswa dari Universitas Riau (UNRI), Aliansi Mahasiswa Universitas Lancang Kuning (UNILAK), serta kelompok Rakyat Riau Melawan menggelar aksi unjuk rasa menolak revisi Undang-Undang (UU) Tentara Nasional Indonesia (TNI) di depan Kantor DPRD Provinsi Riau pada Jumat (21/03). Aksi diwarnai dengan berbagai orasi serta simbol perlawanan terhadap revisi UU TNI.
Massa aksi yang dipimpin oleh Ego Prayogo (UNRI), Muhammad Anwar (UNILAK), dan Khariq Anhar (Rakyat Riau Melawan) membawa berbagai alat peraga, termasuk spanduk dan poster dengan pesan-pesan kritis terhadap revisi UU TNI. Beberapa tulisan dalam spanduk mencerminkan kekhawatiran mahasiswa terhadap kembalinya dominasi militer dalam kehidupan sipil, di antaranya: "Kembalikan Militer ke Barak", "Reformasi Harga Mati", dan "Militerisme Dibesarkan, Demokrasi Dikuburkan".
Situasi mulai memanas pada pukul 16.36 WIB ketika massa berusaha menerobos barikade keamanan di depan gerbang DPRD. Upaya dialog sempat dilakukan oleh perwakilan DPRD, H. Abdullah (Fraksi PKS) dan Muhammad Fadel Verza (Fraksi PAN), namun ditolak oleh massa aksi yang menginginkan Ketua DPRD Provinsi Riau untuk turun langsung menemui mereka.
Ketegangan meningkat ketika massa mencoba masuk ke dalam gedung DPRD, yang berujung pada bentrokan dengan aparat keamanan. Pukul 17.30 WIB, pagar pintu masuk berhasil dijebol, memaksa aparat kepolisian meningkatkan pengamanan. Selang 10 menit kemudian, Ego Prayogo, yang juga menjabat sebagai Presiden Mahasiswa UNRI, menyatakan menarik diri dari aksi bersama seluruh mahasiswa UNRI akibat perbedaan pendapat dengan Aliansi Mahasiswa UNILAK.
Selama aksi berlangsung, sejumlah perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas menyampaikan orasi yang menyoroti berbagai kebijakan kontroversial, termasuk dugaan ketidakberpihakan pemerintah terhadap rakyat serta kecaman terhadap pemborosan anggaran oleh pejabat negara. Beberapa orator menegaskan bahwa revisi UU TNI dinilai sebagai ancaman terhadap demokrasi dan kebebasan sipil.
Sekitar pukul 17.45 WIB, Lerry, selaku Koordinator Humas DPRD Provinsi Riau, menemui massa dari Aliansi Mahasiswa UNILAK dan menyampaikan bahwa aspirasi mereka akan diteruskan kepada Ketua DPRD pada hari Senin mendatang. Pernyataan serupa juga disampaikan kembali oleh H. Abdullah dan Muhammad Fadel Verza yang meminta mahasiswa menempuh jalur hukum, termasuk melalui Mahkamah Konstitusi.
Meskipun aksi berlangsung dengan tensi tinggi, kondisi tetap terkendali hingga massa membubarkan diri menjelang pukul 18.00 WIB.***
Laporan : Dwiki
