Pasukan Sekuriti Dari KNES Dituding Hadang Panen Sawit, Warga Desa Senama Nenek di Kampar Kembali Mengamuk

Selasa, 18 November 2025 | 18:07:15 WIB

Kampar, Catatanriau.com – Suasana Desa Senama Nenek, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, kembali memanas pada Selasa (18/11/2025). Ratusan warga, terutama ibu-ibu dan bapak-bapak yang tergabung dalam Koperasi Pusako Senama Nenek (KOPOSAN) terlibat aksi, mereka menyebut kembali dihadang oleh kelompok yang mereka sebut sebagai pasukan sekuriti dan diduga preman bayaran yang dikaitkan dengan Koperasi Nenek Eno Senama Nenek (KNES).

Insiden ini kembali membuka babak baru dari konflik lahan berkepanjangan yang telah terjadi di wilayah tersebut selama beberapa tahun terakhir.

Menurut pantauan di lapangan, warga KOPOSAN membentuk barisan untuk menembus blokade yang dilakukan oleh sekuriti dan pihak yang mereka tuding sebagai preman bayaran. Warga mengaku dihalangi saat hendak memasuki lahan kebun sawit mereka untuk memanen.

“Hari ini kami datang untuk membuka barisan sekuriti dan preman bayaran yang menghalang-halangi masyarakat memanen kebunnya,” ujar Ibu Wati, salah seorang peserta aksi, kepada wartawan.

Ia menyebut bahwa kendaraan warga yang digunakan untuk mengangkut buah sawit juga sempat dihadang.

Dalam aksi yang berlangsung menegangkan itu, warga mengaku tak mendapati satu pun aparat keamanan yang hadir untuk menengahi perselisihan. Kondisi ini membuat massa yang didominasi para ibu bergerak secara spontan untuk menantang barisan penghadang.

“Miris sekali, tidak ada satu pun aparat yang datang. Padahal situasi sudah memanas,” keluh seorang warga yang ikut menyaksikan kejadian.

Perselisihan antara kedua koperasi telah berlangsung lama dan kerap menimbulkan gesekan. Warga yang berada di pihak KOPOSAN menuding pengelolaan lahan oleh KNES tidak transparan dan tidak memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Sejak dikelola pengurus koperasi KNES, tidak ada transparansi hasil dan tidak pernah ada RAT (Rapat Anggota Tahunan). Pengurus hanya mementingkan perutnya sendiri,” kata Ibu Wati.

Konflik ini sebelumnya juga telah diberitakan dalam sejumlah laporan media lokal.

Sebelum berita ini diterbitkan, tim media berupaya meminta klarifikasi kepada Kepala Desa Senama Nenek, Abdul Rahman Chan. Namun pesan konfirmasi yang dikirimkan melalui WhatsApp belum dibalas hingga berita ini diturunkan.

Melihat konflik yang tak kunjung tuntas, warga mendesak agar pemerintah daerah hingga pusat turun tangan. Mereka berharap penyelesaian konflik lahan dapat dilakukan secara adil dan terbuka agar ketegangan sosial tidak terus berlanjut.(Adi).

Terkini