Rohul, Catatanriau.com — Persoalan pendidikan di Kabupaten Rokan Hulu(Rohul), Riau, tidak hanya soal ruang kelas. Ketika sekolah terbakar, komputer terbatas, dan akses internet belum merata, kebutuhan pendidikan bersentuhan langsung dengan fasilitas dasar untuk belajar.
Di tengah kondisi itu, dunia usaha ikut ngambil peran melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR). PT Perkebunan Nusantara IV Regional III menjadi salah satu perusahaan yang menyalurkan bantuan tersebut. Berdasarkan informasi perusahaan yang diberitakan ANTARA, total TJSL yang disalurkan di Rokan Hulu mencapai Rp2,4 miliar.
Programnya mencakup pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pembangunan infrastruktur sosial. Pada 2025, tercatat 66 jenis program bantuan direalisasikan di berbagai kecamatan. Namun, yang menjadi perhatian bukan hanya besarnya nominal, melainkan bagaimana bantuan tersebut diterjemahkan menjadi manfaat bagi masyarakat.
Salah satunya melalui pengadaan komputer dan layanan internet gratis selama satu tahun untuk lima sekolah, termasuk SMPN 1 Kunto Darussalam dan SDN 003 Pagaran Tapah. Program ini diarahkan untuk memperluas akses teknologi digital bagi pelajar di daerah.
Dampak bantuan menjadi lebih nyata ketika fasilitas pendidikan rusak akibat bencana. SDN 011 Desa Langkitin mengalami kebakaran dan membutuhkan pembangunan kembali. Melalui program TJSL, PTPN IV PalmCo Regional III menyalurkan Rp199 juta untuk mendukung pembangunan sekolah tersebut.
Bantuan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu. Wakil Bupati Rokan Hulu Syafarudin Poti, sebagaimana dikutip Katakabar, menyebut bantuan tersebut membantu mempercepat pembangunan kembali. Jika hanya mengandalkan APBD, prosesnya harus melewati tahapan pengajuan dan pembahasan anggaran.
Kasus ini menunjukkan bahwa kolaborasi pemerintah dan dunia usaha dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat penanganan kebutuhan masyarakat.
Dukungan sektor pendidikan tidak berhenti pada pembangunan kembali sekolah. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, program TJSL pendidikan menjangkau 10 institusi, termasuk sekolah umum, pesantren, dan yayasan panti asuhan.
Pada September 2026, PTPN IV Regional III kembali menyalurkan Rp50 juta untuk pembangunan ruang belajar MTs Wahid Hasyim, Kecamatan Kabun. Bantuan tersebut menjadi bagian dari paket TJSL senilai Rp110 juta yang sebagian besar dialokasikan untuk pendidikan.
Di sinilah ukuran bantuan seharusnya tidak berhenti pada angka. Rp50 juta mungkin terlihat kecil dibandingkan total Rp2,4 miliar. Namun bagi sekolah, dana tersebut dapat berarti tambahan ruang belajar. Bagi siswa, ruang itu berarti tempat untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak.
Begitu pula komputer dan internet. Nilainya bukan sekadar perangkat, tetapi akses terhadap sumber pengetahuan dan pembelajaran digital.
Meski demikian, program TJSL tidak menggantikan tanggung jawab pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pendidikan. Pendidikan tetap membutuhkan peran pemerintah, sekolah, guru, keluarga, masyarakat, dan dunia usaha.
Dalam pembangunan kembali SDN 011 Langkitin, sinergi pemerintah daerah dan perusahaan menjadi salah satu bentuk kolaborasi tersebut. PTPN IV Regional III juga menyatakan program TJSL disusun melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat agar bantuan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, pertanyaan penting setelah bantuan disalurkan bukan sekadar berapa besar dana yang diberikan. Melainkan: apakah ruang kelas benar-benar digunakan? Apakah komputer menjadi bagian dari proses belajar? Apakah internet dimanfaatkan secara optimal? Dan apakah fasilitas yang dibangun mampu bertahan serta memberikan manfaat dalam jangka panjang?
Jumlah angka nominal yang di berikan Rp2,4 miliar bantuan dengan rincian TJSL. 66 program pada 2025. Rp199 juta untuk SDN 011 Langkitin.Rp264 juta bantuan pendidikan pada semester pertama 2026.
Rp50 juta untuk ruang belajar MTs Wahid Hasyim.
Angka-angka itu pada akhirnya bukan sekadar nominal. Ia berubah menjadi ruang kelas, komputer, akses internet, fasilitas pendidikan, dan sekolah yang kembali dibangun setelah kebakaran. Bukan hanya tentang berapa banyak uang yang disalurkan, tetapi seberapa jauh bantuan tersebut membuka akses dan menciptakan kesempatan belajar bagi anak-anak Rokan Hulu.***
Penulis : Putri Aulia Oktafiona
