Tangis 15 KK di Simpang Gaung Kehilangan Rumah Akibat Kebakaran, Kini Mengungsi Ke Rumah Kerabat

Tangis 15 KK di Simpang Gaung Kehilangan Rumah Akibat Kebakaran, Kini Mengungsi Ke Rumah Kerabat

Inhil, Catatanriau.com – Pasca kebakaran hebat yang menghanguskan 15 rumah warga di Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung Anak Serka, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, suasana duka masih menyelimuti para korban. Jika sebelumnya peristiwa kebakaran telah diberitakan, kini dampaknya semakin terasa, sebanyak 15 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi karena tak lagi memiliki tempat tinggal.

Rumah-rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung dan membangun kenangan bersama keluarga, kini tinggal puing dan arang. Tidak ada lagi atap untuk berteduh, tidak ada lagi dinding yang melindungi dari panas dan hujan. Sejak api melalap permukiman mereka pada Selasa (24/2/2026) dini hari, para korban kini harus menumpang hidup di rumah keluarga terdekat.

“Para korban mengungsi ke rumah keluarganya,” ujar Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Inhil, Junaidi Ismail.

Keputusan mengungsi bukanlah pilihan mudah. Namun, setelah api meludeskan seluruh bangunan semi permanen yang mayoritas terbuat dari kayu, para korban tak memiliki alternatif lain. Harta benda, pakaian, peralatan rumah tangga, hingga dokumen penting ikut terbakar.

Sebagian korban hanya sempat menyelamatkan diri dengan pakaian yang melekat di badan saat api tiba-tiba membesar sekitar pukul 05.30 WIB. Dalam hitungan jam, tempat tinggal mereka rata dengan tanah.

Kini, mereka berbagi ruang di rumah sanak saudara. Satu rumah bisa dihuni dua hingga tiga keluarga sekaligus. Anak-anak tidur beralaskan tikar seadanya, sementara para orang tua berusaha tegar meski masih terpukul atas kehilangan tersebut.

Tangis pecah setiap kali para korban kembali mengingat bagaimana api dengan cepat merambat dari satu rumah ke rumah lainnya. Dugaan sementara, kebakaran dipicu korsleting listrik, lalu membesar karena material bangunan yang mudah terbakar.

Meski tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut, luka batin dan trauma masih terasa. Beberapa warga mengaku masih terbayang kobaran api yang membesar disertai kepanikan warga yang berlarian menyelamatkan diri.

Anak-anak pun disebut masih takut ketika melihat api atau mendengar suara keras. Sementara para orang tua kini dihantui kecemasan tentang masa depan—bagaimana membangun kembali rumah, dari mana memulai, dan kapan bisa kembali hidup normal.

Pendataan korban masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah. Bantuan logistik darurat tengah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, mulai dari bahan makanan, pakaian, hingga perlengkapan tidur.

Namun bagi para korban, kehilangan rumah bukan sekadar kehilangan bangunan fisik. Mereka kehilangan rasa aman, kenyamanan, dan tempat berkumpul bersama keluarga.

Musibah yang terjadi di Desa Simpang Gaung itu kini menyisakan cerita pilu. Lima belas kepala keluarga harus memulai kembali hidup mereka dari nol, menumpang di rumah kerabat, sembari berharap ada bantuan dan uluran tangan agar mereka bisa kembali memiliki tempat tinggal yang layak.***

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index