Pekanbaru, Catatanriau.com — Suasana di Jalan Sultan Syarif Kasim, Kota Pekanbaru, Senin sore, 2 Februari 2026, berubah menjadi lautan massa. Ratusan umat Muslim berkumpul di depan Tempat Hiburan Malam New Paragon KTV, menyuarakan protes keras terhadap aktivitas yang mereka nilai mencederai nilai agama dan budaya Melayu.
Aksi ini mencuat sebagai reaksi atas dugaan digelarnya kontes kecantikan waria di New Paragon KTV pada Minggu, 25 Januari 2026 lalu. Informasi tersebut memicu kemarahan publik dan mendorong berbagai elemen masyarakat turun ke jalan.
Sejak sore hari, massa mulai memadati area depan tempat hiburan malam tersebut. Spanduk-spanduk bernada kecaman dibentangkan, sementara orasi silih berganti disampaikan dari atas mobil komando. Seruan penolakan terhadap praktik yang dianggap bertentangan dengan norma agama menggema di tengah kerumunan.
Aksi unjuk rasa ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting Riau. Di antaranya mantan Wakil Gubernur sekaligus Gubernur Riau, Edy Natar Nasution, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau Zulhusni Domo, serta tokoh masyarakat Riau Azlaini Agus. Kehadiran para tokoh tersebut semakin memperkuat tekanan moral terhadap pemerintah daerah.
Dalam orasinya, Edy Natar Nasution menyampaikan tuntutan tegas kepada Pemerintah Kota Pekanbaru agar mencabut izin operasional New Paragon KTV. Menurutnya, pemerintah memiliki kewenangan penuh untuk bertindak dan tidak boleh ragu dalam menjaga marwah daerah.
Ia juga menepis alasan pendapatan asli daerah sebagai pembenaran keberadaan tempat hiburan yang dinilai melanggar norma. Edy menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak seharusnya mengorbankan nilai moral dan spiritual masyarakat.
“Saya tidak akan berhenti bersuara sampai tempat ini ditutup. Jangan karena alasan PAD, pemerintah melegalkan kemaksiatan. Itu kesalahan besar,” tegasnya di hadapan massa, seperti dilansir, Riauonline.co.id.
Lebih jauh, Edy mengingatkan tanggung jawab moral para pemimpin dan aparat penegak hukum. Ia mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dan kepolisian dalam menjaga marwah Bumi Lancang Kuning dari praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran agama.
Sementara itu, Wakil Ketua MUI Riau Zulhusni Domo menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai dugaan kontes kecantikan waria tersebut telah mencoreng citra Pekanbaru sebagai Kota Bertuah. Menurutnya, pemimpin yang memberi ruang bagi tempat maksiat sama saja dengan membuka pintu datangnya bencana.
Aksi unjuk rasa berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian. Hingga massa membubarkan diri, tuntutan utama yang disuarakan tetap sama, yakni pencabutan izin dan penutupan permanen New Paragon KTV. Para peserta aksi menyatakan akan terus mengawal isu ini hingga pemerintah mengambil langkah tegas.***
