Bengkalis , Catatanriau.com— Kegiatan wisuda IAIN Datuk Laksamana Bengkalis tahun 2025 menuai kritik keras dari mahasiswa. Berdasarkan informasi yang beredar, total anggaran pelaksanaan wisuda disebut menembus angka setengah miliar rupiah lebih, angka yang dinilai sangat berlebihan dan tidak sebanding dengan kondisi kampus maupun mahasiswa.
Calon wisudawan menilai, acara akademik yang seharusnya menjadi momentum sakral justru berubah menjadi proyek bernilai besar yang rawan disusupi kepentingan bisnis, bahkan diduga melibatkan oknum dari kalangan internal kampus.
“Dana wisuda tahun ini sangat tidak wajar. Kami menduga ada kepentingan bisnis di baliknya. Beberapa dosen dan pihak tertentu terlibat langsung dalam pengadaan atribut, toga, hingga dokumentasi. Ini bukan lagi kegiatan akademik, tapi sudah menyerupai proyek,” ujar salah satu calon wisudawan yang enggan disebutkan namanya.
Mahasiswa juga menyoroti sikap kampus yang tertutup terhadap Rencana Anggaran Biaya (RAB) kegiatan. Hingga kini, tidak ada publikasi resmi terkait rincian anggaran yang digunakan, meskipun seluruh peserta diwajibkan membayar biaya yang cukup besar.
Lebih parah lagi, muncul dugaan adanya intimidasi terhadap mahasiswa yang berani mempertanyakan transparansi dana wisuda. Salah satu dosen dikabarkan melontarkan ucapan:
“Jangan karena satu orang, wisuda tahun ini jadi batal.”
Kalimat tersebut memicu kecaman dan dianggap sebagai bentuk pembungkaman terhadap suara kritis mahasiswa.
“Ini bukan sekadar soal uang. Ini tentang moralitas akademik. Ketika mahasiswa bicara transparansi lalu diancam, berarti kampus sedang sakit dan kehilangan nilai-nilai keilmuan,” tegas salah satu perwakilan calon wisudawan.
Mahasiswa mendesak rektorat untuk membuka RAB wisuda secara terbuka, mengevaluasi panitia dan oknum dosen yang terlibat dalam aktivitas bisnis kampus, serta menghentikan segala bentuk tekanan terhadap mahasiswa.
Mahasiswa menegaskan, perjuangan mereka bukan untuk menggagalkan wisuda, tetapi untuk memulihkan nilai kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab moral kampus Islam negeri di Bengkalis tersebut.***
Laporan : Vanness
