Pekanbaru, Catatanriau.com – Aksi demonstrasi mahasiswa bersama rakyat Riau yang berlangsung di depan Mapolda Riau, Senin (1/9/2025), mendapat sorotan tajam. Presiden Mahasiswa Institut Kesehatan Payung Negeri (IKES PN) Pekanbaru, Risky Febrian, menegaskan bahwa gerakan tersebut bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan lahir dari hati nurani dan sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik kekerasan, pungutan liar (pungli), serta ketidakadilan aparat yang selama ini dianggap membungkam suara rakyat.
“Kami berdiri di sini bukan untuk mencari sensasi, tapi untuk menuntut hak rakyat dan meminta jaminan agar tidak ada lagi represifitas dari pihak kepolisian, khususnya di Riau, dalam menangani massa aspirasi. Polisi lahir untuk melindungi, bukan untuk menindas!” tegas Risky dalam orasinya.
Dalam aksi tersebut, massa aksi menyampaikan tujuh tuntutan keras yang ditujukan langsung kepada Kapolda Riau, antara lain:
- Mengakhiri segala bentuk kekerasan aparat terhadap mahasiswa dan rakyat kecil.
- Membersihkan Polri dari pungli dan korupsi, baik di jalanan maupun internal kepolisian.
- Menghentikan budaya “oknum” – seluruh pelanggaran aparat harus dibuka ke publik, bukan ditutupi.
- Mengembalikan polisi ke khitmahnya sebagai pengayom dan pelindung rakyat, bukan alat kekuasaan.
- Menindak tegas kejahatan nyata di Riau seperti tambang ilegal, narkotika, kekerasan terhadap anak, hingga kriminalitas terhadap tenaga kesehatan.
- Melakukan reformasi total Polri dari akar: sistem rekrutmen, pendidikan, hingga disiplin aparat.
- Menghentikan kriminalisasi terhadap suara rakyat, karena menyampaikan pendapat adalah hak yang dilindungi undang-undang.
Mahasiswa dan rakyat menilai bahwa institusi kepolisian tengah mengalami krisis kepercayaan publik akibat praktik represif dan korupsi yang dibiarkan. Mereka menegaskan, Kapolda Riau harus segera merespons tuntutan tersebut dengan langkah nyata, bukan sekadar janji manis.
“Kami tidak akan berhenti! Kami akan terus turun ke jalan sampai rakyat benar-benar merasakan keadilan. Jika Kapolda Riau menutup mata, sejarah akan mencatatnya sebagai pengkhianat reformasi, dan kami secara terbuka mendesak agar Kapolda mengundurkan diri!” teriak salah satu orator.
Aksi yang berlangsung dengan lantang itu diwarnai spanduk, poster, serta pekikan seruan agar polisi kembali ke jalur pengabdian sebagai pelindung rakyat. Puluhan peserta aksi terlihat mengenakan almamater perguruan tinggi, di antaranya IKES PN Pekanbaru, STIE Riau, Universitas Pahlawan Bangkinang, Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), serta sejumlah elemen masyarakat.
Gerakan ini dipandang sebagai suara hati nurani rakyat Riau yang mendesak perubahan segera di tubuh kepolisian.***
#BEM IKES PN
#RiskyFebrian
#Reformasi
Laporan: Angie
