Kepulauan Meranti, Catatanriau.com - Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Kepulauan Meranti menggelar kegiatan “Menapak Jejak Warisan Kearifan Lokal Melayu Kepulauan Meranti” di Desa Bantar, Desa Permai, dan Desa Anak Setatah, Kecamatan Rangsang Barat, Sabtu (30/8/2025).
Pembukaan kegiatan dipusatkan di Balai Adat LAMR Desa Bantar dan secara resmi dibuka oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Kepulauan Meranti, Datuk Seri Afrizal Cik, S.Sos., M.Si. Turut hadir Timbalan Ketum MKA, Datuk Atan Ibrahim, S.Pd., M.Pd., Datuk Drs. H. Idham Syuib, Datuk Muhammad Khalil Abdullah, Timbalan Ketum DPH Datuk Wan Zulkifli, S.H., M.H., Datuk Ramlan Abdullah, Datuk Misdar Efendi, Datuk Ibrahim Munir, Datuk Zaini Mahadun, Datuk Jefri Iskandar, S.IP., Ketua II Dewan Kehormatan Adat Datuk Muhammad Latif G., serta Ketua Panitia Datuk Abdul Zaid, C.BJ., C.EJ., bersama sejumlah pengurus lainnya. Acara diikuti sekitar seratus peserta.
Kehadiran rombongan LAMR Meranti disambut hangat oleh Ketua LAMR Kecamatan Rangsang Barat, Datuk H. Suardi, S.Pd., bersama jajaran pengurus selaku tuan rumah. Hadir pula Camat Rangsang Barat Hasan, S.Sos., M.Si., Sekcam Syamsul Bahari, S.T., Kapolsek, Danpos TNI AD, Korwil Pendidikan, para kepala desa, Ketua MUI, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda setempat.
Datuk H. Suardi dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas perhatian LAMR Kabupaten yang untuk pertama kalinya melaksanakan helat di Rangsang Barat. Hal senada disampaikan Camat Hasan yang terlihat setia mendampingi rombongan hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.
Ketua Umum DPH LAMR Meranti, Datuk Seri Afrizal Cik, menjelaskan maksud kegiatan ini adalah untuk mengenang kejayaan perkampungan Melayu masa silam serta melahirkan rekomendasi bagi pemerintah guna menyelamatkan desa-desa yang kini terancam abrasi.
“Desa Bantar, Permai, dan Anak Setatah dahulu dikenal hingga ke negeri seberang. Warganya berniaga ke Malaysia, ibarat pergi pagi pulang petang. Namun kini, ketika kearifan lokal diabaikan, ketiga desa tersebut justru menjadi korban abrasi yang mengganas. Melalui kegiatan ini, kita ingin mengambil sikap serta merumuskan rekomendasi untuk penyelamatan kampung-kampung yang terancam,” ujar Datuk Afrizal Cik.
Rangkaian kegiatan meliputi kunjungan ke Balai Adat LAMR Kecamatan Rangsang Barat, Tepian Parit Naga, Masjid Jami’ Ar-Ruhama yang berdiri sejak 1920, Pantai Tanjung Motong, hingga Pantai Cinta Anak Setatah.
LAMR Meranti juga memberikan Piagam Penghargaan kepada Datuk Kadarsiono atas jasa-jasanya menanam mangrove sebagai benteng penyelamat pulau. Di Parit Naga, dilakukan penanaman lima batang bambu secara simbolis sebagai wujud pelestarian tebing sungai.
Di Masjid Jami’ Ar-Ruhama, rombongan mengikuti syarahan sejarah dan kebudayaan Melayu Islam yang dibawakan Datuk Muhammad Ali, tokoh masyarakat Desa Permai. Sementara di Pantai Tanjung Motong, yang berada di tepian Selat Malaka, dilaksanakan Deklarasi Dukungan Pembentukan Daerah Istimewa Riau.
Puncak kegiatan berlangsung di Pantai Cinta Anak Setatah, tempat rombongan menyaksikan hasil nyata dari perjuangan Datuk Kadarsiono dan masyarakat yang sejak 2006 menanam mangrove. Kini hutan mangrove itu tumbuh subur dan menjadi benteng alami penahan abrasi di pesisir Meranti.***
Laporan : Dwiki
