Siak, Catatanriau.com – Gelombang kritik atas tindakan represif aparat kepolisian kembali bermunculan. Kali ini, Presiden Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Susha Siak, M. Rizki Mangunsong, angkat bicara terkait peristiwa seorang pengemudi ojek online (ojol) yang ditabrak kendaraan taktis kepolisian saat aksi demonstrasi berlangsung di depan Gedung DPR RI, Jakarta.
Dalam pernyataan resminya, Presiden Mahasiswa STAI SUSHA mengecam keras aksi tersebut yang dianggap telah melukai hati rakyat dan menciderai prinsip demokrasi. Ia menegaskan bahwa aparat kepolisian semestinya hadir sebagai pelindung rakyat, bukan malah bertindak sewenang-wenang hingga menyebabkan korban.
“Peristiwa ini adalah bentuk nyata arogansi aparat. Polisi seharusnya hadir untuk mengayomi dan menjaga keselamatan rakyat, bukan justru menabrak dan melukai masyarakat yang tengah memperjuangkan aspirasinya. Kami, mahasiswa STAI SUSHA Siak, menyatakan kecaman keras atas tindakan tersebut,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rizki menilai bahwa kasus ini menjadi bukti bahwa masih ada pola represif dalam menghadapi aksi massa di Indonesia. Padahal, demonstrasi adalah hak konstitusional warga negara yang dijamin oleh Undang-Undang. Ia menyebut bahwa tindakan semacam ini dapat merusak kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
“Kebebasan berpendapat dan menyampaikan aspirasi di muka umum adalah hak rakyat yang tidak bisa diganggu gugat. Aparat seharusnya bersikap profesional dan humanis. Jika cara-cara represif masih terus dipertontonkan, bagaimana rakyat bisa percaya kepada penegak hukum?” tambahnya.
Presiden Mahasiswa STAI SUSHA mendesak Kapolri untuk segera melakukan evaluasi besar-besaran serta memberi sanksi tegas kepada oknum yang terlibat dalam insiden penabrakan tersebut. Ia menegaskan, kasus ini tidak boleh dibiarkan tanpa tindak lanjut karena menyangkut marwah demokrasi dan hak asasi manusia.
“Kami mendesak agar Kapolri segera mengusut tuntas kasus ini. Jangan ada lagi alasan pembiaran atau sekadar klarifikasi. Jika tidak ada sanksi tegas, maka wibawa kepolisian akan semakin tergerus di mata rakyat,” ungkapnya.
Selain mengecam, Presiden Mahasiswa STAI SUSHA juga menyampaikan solidaritas dan doa untuk korban serta seluruh elemen masyarakat yang berjuang di jalanan. Ia menekankan bahwa mahasiswa selalu berdiri di barisan rakyat, mengawal kebenaran, serta menolak segala bentuk ketidakadilan.
“Mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat. Kami tidak akan tinggal diam ketika rakyat diperlakukan secara tidak manusiawi. Gerakan mahasiswa akan terus bersuara, karena diam berarti membiarkan penindasan terjadi. Demokrasi tidak boleh dibungkam dengan kekerasan,” tandasnya.
Di akhir pernyataannya, ia menyerukan kepada seluruh mahasiswa, pelajar, serta masyarakat sipil untuk tetap solid, menjaga persatuan, dan tidak gentar dalam menyuarakan aspirasi. Ia menegaskan bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan harus terus dilakukan melalui jalur damai dan bermartabat.
“Peristiwa ini harus menjadi pelajaran bersama. Rakyat tidak boleh takut untuk bersuara, dan aparat harus ingat bahwa mereka digaji dari uang rakyat. Kedaulatan ada di tangan rakyat, bukan di atas senjata dan kendaraan taktis,” tutup Presiden Mahasiswa STAI SUSHA Siak.***
Laporan : Tiyna
