Menapak Jejak Boru Namora, Pramuka SMA Negeri 1 Rambah Belajar Sejarah Langsung dari Situs Leluhur

Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:57:40 WIB

Rohul, Catatanriau.com — Semangat memperingati HUT ke-65 Gerakan Pramuka tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial. Puluhan Siswa dan siswi Pramuka SMA Negeri 1 Rambah, Pasir Pengaraian, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, memilih memperkuat pengetahuan sejarah dengan mengunjungi salah satu situs bersejarah, Pijakan Boru Namora Suri Andung Jati.

Situs yang diyakini berkaitan dengan sejarah keberadaan masyarakat Mandailing di Kecamatan Rambah itu berada di Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah. Kunjungan berlangsung pada Jum'at (21/8/2026).
Kedatangan rombongan pelajar tersebut disambut langsung juru rawat atau juru kunci situs sejarah Boru Namora Suri Andung Jati, Syamsul Bahri Nasution, bergelar Mangara Huta Tinggi.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas. Para siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan sejarah melalui teori, tetapi melihat langsung lokasi yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat di daerah tersebut. Salah seorang anggota Pramuka yang ikut dalam rombongan mengatakan, kunjungan itu bertujuan memperluas wawasan melalui pengalaman langsung di lapangan.

"Ini merupakan wisata pendidikan yang di dalamnya ada edukasi agar para kami bisa mengetahui suatu proses sejarah itu tercipta," ujarnya.

Menurut dia, pembelajaran sejarah dengan mendatangi langsung situs peninggalan dinilai memberikan pengalaman berbeda dibandingkan hanya mempelajarinya dari buku.

Syamsul Bahri Nasution kemudian menceritakan sejarah yang berkembang di tengah masyarakat mengenai Boru Namora Suri Andung Jati dan terbukanya Huta Haiti (Kampung Kaiti)
yang menjadi bagian dari sejarah masyarakat Mandailing di Kecamatan Rambah. Menurut penuturan sejarah yang diwariskan para leluhur dan masyarakat, Boru Namora bersama rombongannya hijrah dari Tapanuli Selatan menuju Pasir Pengaraian. Perpindahan itu berkaitan dengan konflik saudara yang terjadi di daerah Padang Garugur.

Dalam perjalanan tersebut, Boru Namora disebut membawa dua orang cucunya bersama sejumlah warga. Perjalanan itu kemudian menjadi bagian dari cerita asal-usul pembukaan permukiman masyarakat Mandailing di wilayah Rambah. Syamsul menuturkan, Boru Namora dalam cerita masyarakat dipercaya sebagai putri kayangan atau bidadari. Pijakan yang ada saat ini bukanlah makam Boru Namora, melainkan diyakini sebagai tempat terakhir ia berdiri sebelum menghilang.

"Pada masa itu Boru Namora berdiri di atas gundukan tanah sambil memberikan pesan kepada warga. Setelah itu, beliau menghilang sekejap mata," kata Syamsul.

Karena cerita tersebut, lokasi Pijakan Terakhir Boru Namora hingga kini dianggap memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Mandailing di Kecamatan Rambah. Selain pijakan tersebut, terdapat pula Bagas Rarangan yang disebut sebagai rumah pertama yang dibangun masyarakat setelah pembukaan kampung. Rumah itu diperuntukkan bagi Boru Namora.
Meski telah beberapa kali mengalami perombakan, Syamsul mengatakan posisi Bagas Rarangan masih berada di lokasi seperti ketika pertama kali dibangun.

Di balik kunjungan para pelajar, Syamsul menyampaikan harapan agar Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu tidak membiarkan situs bersejarah tersebut berjalan tanpa perhatian.
Ia secara khusus berharap Dinas Pariwisata Kabupaten Rokan Hulu dapat ikut membantu menjaga dan merawat kawasan situs.

Menurutnya, Pijakan Boru Namora tidak hanya dikunjungi masyarakat dari Rokan Hulu. Sejumlah pengunjung dari luar daerah juga datang untuk menelusuri sejarah sekaligus melakukan kegiatan yang berkaitan dengan niat atau nazar. Karena itu, persoalan kebersihan dan perawatan lokasi dinilai perlu mendapat perhatian lebih serius.

"Kami berharap pemerintah daerah, terutama Dinas Pariwisata, bisa membantu pelestarian dan perawatan lokasi. Pengunjung terus berdatangan, bukan hanya untuk mengetahui sejarah, tetapi ada juga yang datang untuk menanam niat atau nazar," ujarnya.

Ia menilai perhatian pemerintah penting agar situs tersebut tidak sekadar menjadi tempat yang dikenal melalui cerita turun-temurun, tetapi benar-benar dirawat sebagai warisan sejarah dan budaya.

Kunjungan Pramuka SMA Negeri 1 Rambah sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian sejarah tidak cukup hanya mengandalkan masyarakat dan juru kunci. Ketika situs bersejarah mulai menjadi tujuan wisata edukasi dan dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah, dukungan pemerintah dibutuhkan agar nilai sejarahnya tetap terjaga.

Bagi generasi muda, keberadaan situs seperti Pijakan Boru Namora menjadi ruang belajar terbuka. Di tempat itu, sejarah tidak hanya dibaca, tetapi dapat dilihat, didengar, dan dipahami melalui cerita masyarakat yang menjaga warisan tersebut dari generasi ke generasi.***

Sumber : Juru Kunci, Syamsul Bahri Nst.

Terkini