Merajut Harapan Baru di Balik Manisnya Selai Nanas KTH Bagan Besar Jaya

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:35:03 WIB
Keterangan Foto: Anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Bagan Besar Jaya, mengolah hasil panen dalam bentuk buah segar menjadi mengolahnya menjadi selai nanas yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Dumai, Catatanriau.com – Hamparan kebun nanas seluas 47 hektare yang dikelola oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Bagan Besar Jaya menjadi tempat menggantungkan harapan bagi 23 orang anggotanya. Setiap hari, mereka mencurahkan tenaga dan waktu untuk merawat tanaman nanas madu sebagai sumber utama penghidupan keluarga. Namun, hasil panen yang diharapkan menjadi penopang ekonomi kerap dihadapkan pada fluktuasi harga pasar yang tidak menentu.

Kondisi tersebut telah dirasakan oleh Izar Johanes Silaban (50) selaku Ketua KTH Bagan Besar Jaya sejak tahun 2020. Dari total lahan seluas 47 hektare yang dikelola kelompok, sekitar 8 hektare telah memasuki masa produktif dan menghasilkan panen yang dipasarkan. Saat musim panen tiba, nanas segar langsung dijual kepada tengkulak dengan produktivitas rata-rata mencapai 1.000 kilogram per hektare.

Ketergantungan pada penjualan nanas segar membuat pendapatan anggota kelompok sangat bergantung pada kondisi pasar. Ketika harga membaik, mereka dapat sedikit bernapas lega. Namun ketika harga turun, pendapatan pun ikut merosot. Situasi tersebut terus menghantui Izar. Ia kerap bertanya dalam hati, bagaimana jika harga nanas kembali turun? Dari mana kelompok ini dapat memperoleh tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga?

Keterbatasan pengetahuan dalam mengolah hasil panen serta belum adanya alternatif usaha membuat anggota kelompok terus berada dalam siklus yang sama, yakni menanam, menunggu, memanen, lalu menyerahkan harga sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Mereka bekerja keras setiap hari dengan harapan yang besar, tetapi selalu dibayangi ketidakpastian terhadap masa depan.

Titik balik mulai hadir ketika Program Perhutanan Sosial yang difasilitasi oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) hadir mendampingi KTH Bagan Besar Jaya. Program ini tidak hanya memberikan dukungan berupa bantuan sarana dan prasarana, tetapi juga membuka wawasan baru mengenai pentingnya peningkatan nilai tambah hasil panen melalui diversifikasi produk.

Keterangan Foto: Selai nanas hasil olahan yang dibuat Anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Bagan Besar Jaya.

Melalui program tersebut, anggota kelompok memperoleh pelatihan diversifikasi produk olahan nanas serta dukungan berbagai fasilitas produksi, seperti mesin pemarut nanas, mesin pengaduk selai, kompor, peralatan pengemasan, perlengkapan produksi, serta bahan habis pakai. Pendampingan ini mendorong Izar bersama anggota kelompok untuk mengubah cara pandang, dari semula hanya menjual hasil panen dalam bentuk buah segar menjadi mengolahnya menjadi selai nanas yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Perubahan tersebut tentu tidak berlangsung mudah. Tangan-tangan para petani yang sebelumnya terbiasa memegang alat pertanian kini harus belajar memilih buah nanas dengan tingkat kematangan yang tepat, memahami proses produksi pangan, hingga mengoperasikan mesin-mesin pengolah selai. Namun, semangat belajar dan keinginan untuk berkembang menjadi kekuatan utama yang mendorong kelompok terus beradaptasi.

Transformasi ini juga membawa dampak sosial yang positif. Tidak hanya para petani yang terlibat di kebun, para istri anggota kelompok kini turut berpartisipasi dalam proses produksi. Mulai dari mengupas buah, mengolah adonan selai, melakukan pengemasan, hingga memastikan kualitas produk, seluruh proses dilakukan secara gotong royong.

Aktivitas yang sebelumnya hanya berpusat di kebun kini berkembang menjadi ruang kolaborasi baru bagi keluarga anggota KTH Bagan Besar Jaya. Diversifikasi produk olahan nanas tidak hanya meningkatkan nilai tambah hasil panen, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Melalui pengembangan usaha selai nanas ini, kelompok berpotensi meningkatkan pendapatan rata-rata sebesar Rp1.000.000 per bulan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada penjualan buah segar.

"Dulu, setiap melihat nanas kami dijual kepada tengkulak dengan harga murah, hati kami selalu berat. Kini, ketika hasil kebun kami dapat kami olah sendiri menjadi selai, rasanya sangat mengharukan. Bagi orang lain, selai ini mungkin hanya sebuah produk. Namun bagi kami, setiap kemasannya adalah bukti bahwa hasil kebun kami memiliki nilai lebih dan mampu menghadirkan harapan baru bagi keluarga kami," ungkap Izar.***

Terkini