Menyusuri Jejak Leluhur, Sosok Juru Kunci Syamsul Bahri Jadi Penghubung Masa Lalu dan Masa Kini

Minggu, 24 Mei 2026 | 11:23:44 WIB

Rohul, Catatanriau.com — Langkah kaki menapaki kawasan Jejak Terakhir Boru Namora Suri Andung Jati seketika menghadirkan suasana berbeda. Hening yang menyelimuti lokasi itu seolah membawa pengunjung kembali ke masa silam, ketika perkampungan pertama Huta Haiti atau Kampung Kaiti mulai dibuka di wilayah yang kini berada di Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu.

Di tengah bangunan yang masih berdiri kokoh pada lokasi aslinya, meski telah beberapa kali direnovasi, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, adat, dan perjalanan leluhur masyarakat Huta Hatiti.  Namun ada satu sosok yang membuat perjalanan sejarah di tempat itu akan  terasa lebih hidup. Ia adalah Syamsul Bahri Nasution bergelar Mangaraja Huta Tinggi, tokoh adat yang dipercaya masyarakat sebagai juru kunci Jejak Terakhir Boru Namora Suri Andung Jati.

Bagi masyarakat sekitar, juru kunci bukan hanya penjaga situs bersejarah. Sosok ini dianggap sebagai penghubung antara masa lalu dan masa kini, penjaga pesan leluhur sekaligus penutur kisah-kisah yang diwariskan turun-temurun.

Kehadiran Syamsul Bahri membuat banyak pengunjung merasa memiliki pengalaman berbeda saat datang ke lokasi tersebut. Dengan sikap ramah dan tutur kata yang tenang, ia menyambut setiap tamu yang datang untuk mengenal sejarah, menanam nazar, hingga mencari ketenangan batin.

"Kita ingin setiap orang yang datang ke sini bukan hanya ingin melihat bangunan tua. dan jejak kaki yang bersejarah. Banyak yang ingin mengetahui sejarah leluhur mereka, mencari ketenangan hati, bahkan menanam niat dan harapan,"  ujar Syamsul Bahri.

Menurut adat dan pesan turun-temurun yang diyakini masyarakat, siapa saja yang ingin menanam nazar atau meminta petunjuk spiritual harus terlebih dahulu bertemu dengan juru kunci. Hal itu menjadi bagian dari penghormatan terhadap pesan Boru Namora yang hingga kini masih diingat oleh keturunannya.

"Wahai anak cucuku, jika kalian mendapat kesusahan, panggillah aku, karena aku akan tetap melihat anak cucuku," demikian pesan leluhur yang terus dijaga dan disampaikan dari generasi ke generasi.

Tidak sedikit pengunjung yang datang dari luar daerah hanya untuk mendengar langsung cerita-cerita lama dari Syamsul Bahri. Dalam setiap sesi perbincangan, ia kerap mengisahkan sejarah awal berdirinya Huta Haiti, perjalanan Boru Namora Suri Andung Jati, hingga berbagai legenda yang selama ini jarang diketahui masyarakat luas.

Bahkan, suasana di lokasi semakin terasa sakral ketika Syamsul Bahri mulai menceritakan ritual adat, petuah leluhur, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan sejak dahulu kala. Banyak pengunjung mengaku merasakan pengalaman emosional dan spiritual yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

"Saya ingin setiap pengunjung bukan hanya datang untuk melihat atau menanam niat, tetapi benar-benar merasakan sejarah itu sendiri, seperti berada di zaman Boru Namora,"  ucapnya.

Fenomena keberadaan juru kunci kini mulai menarik perhatian masyarakat. Di tengah perkembangan zaman modern, sosok seperti Syamsul Bahri justru dianggap penting karena mampu menjaga identitas budaya dan sejarah daerah agar tidak hilang ditelan waktu.

Bagi sebagian orang, juru kunci mungkin hanya dikenal sebagai penjaga tempat bersejarah. Namun di Jejak Terakhir Boru Namora Suri Andung Jati, sosok juru kunci memiliki makna lebih dalam: penjaga adat, perawat sejarah, sekaligus penghubung batin antara leluhur dan anak cucunya.

Dari hasil perbincangan dengan awak media ini pada. Minggu, (24/5/2026). Syamsul Bahri juga mengungkapkan bahwa selama ini banyak masyarakat lokal maupun luar daerah yang datang menanam niat di lokasi tersebut. Ia menyebut, berbagai harapan dan doa yang dipanjatkan pengunjung kerap mendapat jalan terbaik.

"Alhamdulillah, selama banyak yang datang kembali membawa kabar baik. Semua itu tentu atas izin dan kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa," tuturnya.

Kini, keberadaan Jejak Terakhir Boru Namora Suri Andung Jati perlahan mulai dikenal lebih luas. Tidak hanya menjadi destinasi sejarah dan budaya, tetapi juga menghadirkan sosok juru kunci yang membuat masyarakat semakin penasaran untuk datang, mendengar kisah leluhur, dan merasakan sendiri jejak spiritual yang masih hidup hingga hari ini.***

Terkini