Inhil, Catatanriau.com – Pelayanan di RSUD Puri Husada (PH) Tembilahan kembali menjadi sorotan. Kali ini, keluhan tidak terkait tindakan medis, melainkan dugaan sikap tidak humanis yang dilakukan oleh oknum petugas cleaning service terhadap pasien.
Peristiwa tersebut diungkapkan oleh keluarga pasien yang meminta identitasnya dirahasiakan. Mereka mengaku masih menyimpan kekecewaan mendalam atas perlakuan yang dialami saat menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
Menurut keterangan keluarga, pasien yang merupakan kakaknya dirawat selama beberapa malam dalam kondisi kesehatan yang belum stabil. Secara umum, pelayanan medis dinilai berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, insiden yang dianggap tidak pantas justru terjadi menjelang pasien diperbolehkan pulang.
Kejadian itu berlangsung pada Sabtu (4/4/2026) pagi di Ruang Anggrek 3.1. Saat itu, pasien yang tengah mengalami sesak napas bergegas ke toilet dengan bantuan anaknya, karena belum mampu berjalan sendiri dan harus digendong.
Dalam kondisi lemah, pasien diduga lupa menutup keran air hingga menyebabkan air meluap ke lantai. Alih-alih mendapatkan bantuan atau teguran yang bersifat persuasif, seorang oknum cleaning service disebut datang dan melontarkan teguran dengan nada tinggi.
“Dia langsung mengomel, ‘Siapa tadi yang masuk ke WC tidak matikan air?’ Nadanya keras, bukan mengingatkan,” ujar pihak keluarga menirukan.
Suasana ruangan disebut sempat hening, sementara oknum tersebut terus melontarkan teguran dengan nada tinggi. Di tengah tekanan tersebut, pasien akhirnya mengakui perbuatannya dan meminta maaf, sambil menjelaskan bahwa dirinya dalam kondisi sesak napas dan tidak fokus.
Namun, permintaan maaf tersebut tidak menghentikan omelan. Oknum cleaning service bahkan mengeluarkan pernyataan yang dinilai merendahkan.
“Dia bilang, ‘Aku tahulah siapa yang masuk tadi, tiga orang. Kalau tidak ada yang mengaku berarti siluman’,” ungkap keluarga.
Ucapan tersebut dinilai tidak etis dan berpotensi memperburuk kondisi psikologis pasien. Anak pasien yang berada di lokasi sempat menegur agar petugas menjaga ucapannya.
“Kami langsung bilang, tolong jaga ucapannya,” tegasnya.
Keluarga pun mempertanyakan standar pelayanan di rumah sakit daerah tersebut. Mereka menilai seluruh petugas, termasuk non-medis, seharusnya menjunjung tinggi empati dan etika komunikasi, mengingat pasien berada dalam kondisi rentan.
“Ini rumah sakit, bukan tempat orang sehat. Harusnya ada rasa empati, bukan malah memperparah kondisi pasien,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur RSUD Puri Husada Tembilahan melalui Kasi Pelayanan Medis dan Pencegahan, dr. Dwi Gunawan, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp pada Senin (6/4/2026), menyatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti laporan tersebut.
“Saat ini kami sedang melengkapi data dan melakukan investigasi terkait dugaan peristiwa tersebut,” ujarnya.***
Laporan : Supriadi