Euforia Kembang Api Tahun Baru di Duri Tuai Keprihatinan, Imbauan Empati Dinilai Diabaikan

Kamis, 01 Januari 2026 | 11:04:04 WIB

Bengkalis, Catatanriau.com — Meski imbauan larangan konvoi serta penggunaan kembang api dan petasan berdaya ledak tinggi telah gencar disosialisasikan oleh Pemerintah Daerah bersama jajaran Kepolisian, realitas di lapangan justru menunjukkan kondisi yang bertolak belakang. Harapan agar masyarakat menahan diri demi menghormati daerah-daerah yang tengah dilanda bencana alam, seolah hanya menjadi seruan tanpa makna.

Pantauan di lapangan pada Kamis (1/1/2026) dini hari, ribuan kembang api dengan suara ledakan keras tetap dinyalakan di hampir seluruh penjuru Kota Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Sejumlah titik strategis, mulai dari persimpangan jalan utama, kawasan permukiman padat penduduk, hingga pusat keramaian, berubah menjadi lautan cahaya kembang api sejak jelang tengah malam hingga dini hari.

Fenomena tersebut terjadi meskipun sebelumnya pemerintah daerah dan aparat keamanan telah mengimbau masyarakat untuk tidak merayakan pergantian tahun secara berlebihan. Imbauan itu disampaikan sebagai bentuk empati dan kepedulian terhadap saudara-saudara di sejumlah wilayah Indonesia yang tengah dilanda bencana alam, sebagaimana dilaporkan riau24jam.com.

Hingga awal tahun 2026, sejumlah daerah masih diselimuti duka akibat musibah bencana alam yang menelan korban jiwa serta menimbulkan kerugian materi dalam jumlah besar. Kondisi tersebut seharusnya menjadi pengingat bagi masyarakat untuk mengedepankan rasa empati dan solidaritas kemanusiaan.

Namun, euforia perayaan tahun baru di Kota Duri justru menuai keprihatinan dari sebagian warga. Mereka menilai perayaan yang berlangsung secara masif dan berlebihan telah mengabaikan nilai-nilai kepedulian sosial.

“Terus terang kami sangat prihatin. Di saat saudara-saudara kita di Aceh, Sumbar, dan Sumut sedang berduka, di sini justru ramai pesta kembang api. Seharusnya kita bisa menahan diri dan menunjukkan empati,” ujar Rudi (45), warga Kecamatan Mandau, Kamis dini hari.

Hal senada disampaikan Siti Aisyah (38). Ia menilai imbauan pemerintah terkesan tidak memiliki daya tekan yang kuat di tengah masyarakat.

“Kalau sudah ada imbauan resmi, mestinya dipatuhi. Ini bukan sekadar soal aturan, tapi soal rasa kemanusiaan. Jangan sampai kita terlihat abai terhadap penderitaan orang lain,” tuturnya.

Sejumlah warga berharap ke depan pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum dapat melakukan langkah yang lebih tegas namun tetap persuasif. Penegakan aturan dinilai penting agar setiap kebijakan dan imbauan yang dikeluarkan tidak sekadar menjadi formalitas, melainkan benar-benar dipatuhi demi kepentingan bersama.

Peristiwa ini menjadi catatan penting bahwa perayaan pergantian tahun seharusnya tidak dimaknai sebagai pesta dan euforia semata. Momentum tahun baru diharapkan dapat menjadi ajang refleksi diri, memperkuat empati, serta menumbuhkan solidaritas terhadap sesama, khususnya bagi mereka yang tengah tertimpa musibah.***

Terkini