Minas, Catatanriau.com — Masjid Al Muttaqin Gudang, Minas Timur, Kabupaten Siak, Riau, menyelenggarakan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah yang diikuti antusias oleh masyarakat setempat pada Rabu pagi (27/5/2026).
Shalat Idul Adha berlangsung khusyuk dengan imam tetap Masjid Al Muttaqin, Nasib, sementara khutbah Idul Adha disampaikan oleh M. Ikrom.
Dalam khutbahnya yang bertema “Qurban dan Air Mata”, M. Ikrom mengajak jamaah merenungi makna pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan kepada Allah SWT yang menjadi inti dari peringatan Hari Raya Idul Adha.
Ia menyampaikan bahwa Idul Adha merupakan satu dari dua hari terbaik bagi umat Islam sebagaimana disebutkan Rasulullah SAW. Dua hari raya tersebut adalah Idul Fitri dan Idul Adha, yang Allah SWT hadirkan sebagai pengganti hari-hari perayaan pada masa jahiliah.

Idul Fitri dirayakan setiap 1 Syawal setelah umat Islam menunaikan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh dan dikenal sebagai hari kemenangan. Sedangkan Idul Adha dirayakan setiap 10 Dzulhijjah, yang juga dikenal sebagai hari raya kurban atau lebaran haji. Hari-hari setelahnya, yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijjah atau hari Tasyrik, juga disebut sebagai hari penuh kemuliaan dan kebahagiaan bagi umat Islam.
M. Ikrom yang saat ini masih menempuh pendidikan di Pondok Pesantren An-Nizhom mengingatkan jamaah tentang kisah keteladanan yang selalu relevan diulang setiap Hari Raya Idul Adha, yaitu kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail ‘alaihissalam.
Menurutnya, kisah ayah dan anak tersebut merupakan pelajaran besar tentang ketaatan tanpa keraguan dan kepasrahan total kepada Allah SWT.
“Nabi Ibrahim diuji dengan sesuatu yang sangat dicintainya, yakni putra yang menjadi buah hati sekaligus buah cintanya sendiri. Sementara Nabi Ismail diuji dengan kesediaannya menyerahkan jiwa demi ayahnya dapat menjalankan perintah Allah,” ungkapnya di hadapan jamaah.
Ia menambahkan, dari kisah tersebut umat Islam belajar bahwa tidak ada cinta yang lebih tinggi melebihi cinta kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim menunjukkan keteladanan dalam menempatkan Allah di atas segala-galanya, sementara Nabi Ismail memperlihatkan keimanan dan kepatuhan yang begitu kuat meski harus menghadapi ujian besar.
Menutup khutbahnya, M. Ikrom menyampaikan pesan penuh haru kepada jamaah.
“Yakinlah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan ketaatan dan pengorbanan hamba-hamba-Nya. Allah senantiasa memberikan pertolongan dan kemenangan sebagaimana yang diberikan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, ketika Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba untuk disembelih,” jelas M. Ikrom.
Suasana khutbah berlangsung penuh kekhusyukan. Pesan tentang qurban, pengorbanan, dan air mata keikhlasan yang disampaikan menjadi pengingat bagi jamaah akan pentingnya taat, sabar, dan berserah diri kepada Allah SWT dalam setiap ujian kehidupan.***
Pewarta: Afwan
