Rohul, Catatanriau.com - Desa Sontang di Kabupaten Rokan Hulu, Riau, dikenal sebagai salah satu daerah yang kuat memegang prinsip keagamaan dan tradisi leluhur. Salah satu tradisi tersebut adalah suluk, sebuah amalan spiritual yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat setempat.
Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi merupakan perjalanan batin yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah melalui penyucian akhlak, amal, serta pengetahuan.
Dalam kitab Raw?atu al-??lib?n wa ?Umdatu al-S?lik?n, suluk dijelaskan sebagai metode penyucian lahir dan batin.
Seorang hamba yang menjalani suluk senantiasa disibukkan dengan upaya membersihkan hati agar siap menuju kedekatan dengan Sang Ilahi. Bagi masyarakat Sontang, suluk menjadi sarana memperbaiki diri sekaligus memperteguh keyakinan dalam menjalani kehidupan.
Di Desa Sontang, suluk diamalkan terutama pada pertengahan hingga akhir Ramadan. Masyarakat meyakini bahwa bulan suci tersebut merupakan waktu terbaik untuk memperdalam ibadah dan memperkuat spiritualitas.
Meski demikian, suluk sesungguhnya dapat dilakukan kapan saja, sesuai kebutuhan dan kesiapan batin seorang hamba. Surau-surau di desa ini menjadi pusat aktivitas keagamaan, tempat masyarakat berkumpul untuk berzikir, bermunajat, serta memperdalam pemahaman agama.
Keberadaan ulama menjadi salah satu sumber kekuatan spiritual Desa Sontang. Di antara ulama yang paling dikenal adalah Syekh Muhammad Kayo, atau Jamaluddin, seorang sufi yang berasal dari Kerajaan Kunto Darussalam. Beliau datang ke Sontang bukan untuk berdakwah, melainkan untuk melakukan uzlah akibat konflik internal di kerajaan.
Namun, masa uzlah tersebut justru mengantarkan beliau menjadi sosok penting dalam penyebaran ilmu agama di Sontang. Ketekunan beliau dalam berzikir, beribadah, serta membimbing masyarakat menjadikannya figur yang dihormati hingga kini.
Kepala Desa Sontang H. Zulfahrianto, SE yang juga merupakan cucu dari Syekh Muhammad Kayo, mengungkapkan bahwa tradisi keagamaan ini merupakan warisan luhur para pendahulu mereka.
"Kearifan dan tradisi keagamaan yang baik telah diwariskan oleh para pendahulu kepada kita, sehingga harus tetap abadi dan terlestarikan. Tradisi, adat, budaya, dan agama memiliki keterikatan kuat ibarat tali yang mengikat erat simpulnya," ujarnya. Rabu (3/11/2025).
Ia juga berharap tradisi mulia ini terus hidup dan menjadi pedoman bagi generasi mendatang. Suluk bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi fondasi moral masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, kesehatan keluarga, serta pendidikan anak-anak.
Dengan tetap melestarikan tradisi ini, Desa Sontang tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat identitas spiritual yang menjadi kebanggaan masyarakatnya.***
