Jakarta, Catatanriau.com – Andre Wijanarko, General Manager Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), yang baru-baru ini juga diangkat sebagai Executive Vice President (EVP) Upstream Business PHR, membeberkan strategi dan pencapaian PHR dalam menjaga dan meningkatkan produksi di Blok Rokan. Dalam sambutannya pada sesi independen IPA Convex 2025 di Nusantara Hall 3 ICE BSD City, Kamis (22/05/2025), Wijanarko menyoroti tantangan dan inovasi yang diterapkan PHR pasca-transisi pengelolaan Blok Rokan.
Sejak transisi pengelolaan Blok Rokan dari Chevron Pacific Indonesia (CPI) ke Pertamina pada 9 Agustus 2021, PHR telah menjalankan berbagai program intensif yang berhasil menempatkan Zona Rokan sebagai kontributor produksi minyak utama di Indonesia.
"Transisi yang telah berjalan sejak tahun 2021 hingga saat ini telah mendorong Zona Rokan menjadi nomor satu dalam produksi hingga tahun 2024," ujar Wijanarko.
Pencapaian ini kata dia, didukung oleh total produksi minyak Blok Rokan yang mencapai 58 juta barel sepanjang tahun 2024, hal ini menegaskan posisi PHR sebagai salah satu produsen minyak terbesar di tanah air.
Blok Rokan sendiri lanjut dia, yang mulai dioperasikan sejak tahun 1952, memiliki sejarah panjang dalam industri migas Indonesia. Saat ini, PHR mengelola sekitar 13.000 sumur aktif yang berkontribusi pada produksi harian sekitar 150.000 hingga 160.000 barel minyak per hari.
Wijanarko juga menjelaskan bahwa cakupan wilayah operasi Blok Rokan sangat luas, mencakup sekitar 6.400 kilometer persegi dengan banyak portofolio, lapangan, dan sumur yang tersebar. Kompleksitas operasi semakin meningkat dengan adanya 35 stasiun pengumpul dan jaringan pipa yang harus dikelola serta dipelihara secara rutin.
Wijanarko memaparkan, untuk menjawab tantangan dari pemerintah dan memastikan keberlanjutan energi, PHR telah meluncurkan program pengeboran aktif yang masif.
"Saat ini, sekitar 500 lebih sumur kami bor setiap tahunnya, dan sekitar 20.000 aktivitas workover kami lakukan," ungkap Wijanarko.
Aktivitas intensif ini kata dia, didukung oleh hampir 90 unit rig pengeboran dan workover yang beroperasi di Wilayah Kerja Rokan setiap tahun. Skala operasi yang besar juga mencakup pengelolaan pasokan energi untuk operasional, seperti penggunaan artificial lift berupa ESP (Electric Submersible Pump) dan unit pemompaan mekanis, serta penyediaan gas untuk generator listrik.
Wijanarko menyoroti tantangan penurunan produksi alamiah sebesar 30% per tahun jika tidak ada intervensi. "Bagaimana kami mengelola penurunan seperti itu? Menghentikan penurunan produksi akan menjadi fokus kami," tegasnya.
PHR berinvestasi besar dalam inovasi, termasuk penerapan sumur horizontal dan multi-stage fracturing. Selain itu, digitalisasi telah terintegrasi di setiap fungsi operasional, mendukung efisiensi dan optimalisasi produksi.
Integrasi antara pengeboran, workover, dan peningkatan fasilitas permukaan menjadi kunci untuk koordinasi yang baik. Meskipun menghadapi kendala fasilitas yang menua sejak 1952, PHR berkomitmen pada inspeksi dan pemeliharaan ketat untuk memastikan keandalan operasi.
Selain fokus pada inti bisnis produksi migas, PHR juga memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan. Wijanarko menyebutkan program dekarbonisasi dan kontribusi terhadap pengurangan emisi CO2 sebagai bagian dari aktivitas hijau yang sedang dijalankan. PHR aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung inisiatif energi hijau, termasuk pembangunan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) di Wilayah Kerja Rokan.
Melalui kegiatan IPA Convex 2025 ini, PHR berharap dapat berbagi pengetahuan tentang pengelolaan operasional di Blok Rokan yang masif dan menunjukkan potensi besar Indonesia dalam menyediakan keberlanjutan energi di masa depan.
Para ahli kunci dari Pertamina Hulu Rokan turut hadir sebagai narasumber dalam sesi independen ini, antara lain Mochamad Taufan (Operation Head Subsurface Development and Planning), Muhammad Andi Solihin (Operation Head Drilling and Well Intervention), Erwin Sianturi (Operation Head Project and Technical Engineering), dan Triatmojo Roeswanto (VP Information Technology Regional 1). Diskusi ini secara komprehensif membahas "Perjalanan Produksi Berkelanjutan — temukan bagaimana aktivitas dasar, pengembangan besar-besaran, dan digitalisasi bersatu untuk mengatasi tantangan fasilitas dan mendorong keberlanjutan."***
