Dumai, Catatanriau.com — Pukul 08.00 WIB, Kamis (10/9/2026), langit di Jalan Parit Satu, Kelurahan Bangsal Aceh, Kecamatan Sungai Sembilan, Dumai, tak sepenuhnya cerah. Bukan mendung, melainkan selubung asap tipis yang masih setia mengepul dari sisa-sisa api. Hari kelima pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini seperti pertarungan melawan musuh yang tak terlihat—api yang bersembunyi di perut gambut.
Delapan koordinat api tersebar seperti pola tak beraturan di atas lahan seluas 5 hektare. Titik-titik itu berada di 1°41'1.28" LU, 1°41'36.52" LU, 1°41'38.47" LU, 1°41'30.30" LU, 1°41'23.63" LU, 1°41'20.02" LU, 1°40'34.57" LS, dan 1°40'17" LS. Semua berada dalam radius yang mengancam pemukiman dan perkebunan sawit warga. Kabar baiknya, luasan terbakar tak bertambah berkat operasi yang terkendali. Lahan ini diketahui diklaim masyarakat, namun terkait pemilik resmi masih dalam proses penyelidikan kepolisian.
Inilah yang membuat operasi ini rumit: lahan gambut tebal. Jenis tanah ini bagaikan spons kering yang menyimpan panas berhari-hari. Meski nyala api padam, suhu di bawah permukaan bisa tetap tinggi dan sewaktu-waktu meledak jadi titik api baru. Di sinilah pendinginan menjadi kunci, bukan sekadar pemadaman. Api di permukaan mungkin padam, tapi bara di kedalaman gambut bisa "tidur" dan bangkit kapan saja.
Tak tanggung-tanggung, 91 orang dikerahkan bagaikan pasukan gabungan. Rinciannya: 21 personel Polri, 10 personel TNI, 10 personel BPBD, dan 33 personel Manggala Agni yang jadi garda terdepan. Ditambah dukungan dari RPK PT RUJ, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan 10 warga setempat. Kolaborasi ini membuktikan bahwa memadamkan api butuh gotong-royong, bukan sekadar kekuatan individu.
Dua unit alat berat diturunkan ke lokasi untuk membuat kanal-kanal pembatas guna mencegah api merambat ke area yang lebih luas. Tak hanya itu, upaya pencarian mata air juga dilakukan dengan mengebor sumur air dadakan. Di tengah lahan gambut yang kering dan jauh dari sumber air, setiap tetes air adalah nyawa bagi operasi pemadaman.
Kapolsek Sungai Sembilan, Iptu Apriadi, menjelaskan kepada awak media bahwa jarak tempuh dari Mapolsek ke lokasi mencapai 20 kilometer dengan medan yang sangat berat. Personel harus melewati jalan setapak yang sempit, semak belukar yang rapat, serta medan jalan yang sering amblas akibat tebalnya gambut. Belum lagi kepulan asap kebakaran yang mengganggu pandangan, membuat setiap langkah harus dilakukan dengan hati-hati. Namun demikian, semangat personel tak surut. Mereka tetap bahu-membahu menyusuri jalan setapak dan kabut pekat demi menjangkau setiap titik api.
Kapolres Dumai, AKBP Fatikh Dedy Setyawan, tak tinggal diam. Ia turun langsung ke lapangan memimpin operasi pemadaman. Kehadirannya di tengah asap dan medan sulit menjadi suntikan semangat bagi seluruh personel. Tak ada pangkat di hadapan api—semua jadi satu, bergerak cepat memadamkan sebelum kobaran menjalar lebih jauh.
Yang menarik, Kapolres tak hanya fokus pada pemadaman. "Kami juga melakukan penyelidikan untuk mencari pemilik lahan dan pelaku yang melakukan pembakaran," tegasnya. Ini sejalan dengan komitmen Polres Dumai yang menegaskan akan menindak tegas siapa pun yang dengan sengaja melakukan pembakaran lahan. "Polda Riau dan Polres Dumai berkomitmen untuk menindak tegas pelaku pembakaran lahan. Kami tidak akan memberikan toleransi bagi mereka yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.
Usai memastikan api terkendali, Kapolres mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar, terutama di musim kemarau dan cuaca panas yang meningkatkan risiko kebakaran. "Alhamdulillah api sudah bisa kita padamkan dan kita pastikan tidak meluas. Jika melihat titik api, segera laporkan ke pihak berwajib," tegasnya. Imbauan ini penting mengingat sebagian besar karhutla dipicu ulah manusia.
Harapan baru datang dari langit. Guyuran hujan yang turun dari sore hingga senja tadi diharapkan mampu membantu proses pemadaman, terutama untuk mematikan bara api yang masih tersembunyi di dalam lapisan gambut "guyuran hujan dari sore hingga senja tadi berharap api di dalam gambut tersebut bisa padam keseluruhan" ungkap Kapolsek sungai sembilan Iptu Apriadi.
Hingga kini tim gabungan masih melakukan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada bara tersisa yang dapat memicu kebakaran kembali, patroli rutin untuk wilayah rawan karhutla akan terus di galakkan. Pertarungan melawan api belum usai tapi kewaspadaan dan kesolidaritas bersama, Dumai bisa selamat dari ancaman asap dan api, masyarakatpun di minta untuk menjadi mata dan telinga di lapangan.***