Meranti, Catatanriau.com — Kopi liberika merupakan varietas kopi langka dengan karakter rasa khas yang tumbuh optimal di wilayah pesisir dan lahan gambut. Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi salah satu daerah penghasil kopi liberika unggulan di Indonesia. Meski memiliki potensi besar dan telah dikenal hingga mancanegara, kopi liberika Meranti masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya pada aspek kualitas, pascapanen, dan pemasaran.
Upaya mendorong peningkatan kualitas dan nilai tambah kopi liberika tersebut dibahas dalam kegiatan Public Cupping Special of Liberica and Excelsa yang digelar di Dikopi, Selatpanjang, Selasa (20/1). Kegiatan ini menghadirkan berbagai sampel kopi liberika dan excelsa dari sejumlah daerah, di antaranya Liberika Meranti (Riau), Liberika Prau (Jawa Tengah), Liberika Semendo (Sumatra Selatan), Liberika Gorontalo Utara, Excelsa Jawa Barat, dan Excelsa Jawa Timur.
Romi dan Syahreza selaku pegiat kopi liberika yang juga saat ini mengelola Sehasta dan Erber Coffee Pekanbaru mengungkapkan bahwa tantangan utama kopi liberika Meranti saat ini terletak pada penilaian kualitas di tingkat global.
“Dalam perdagangan kopi global, buyer biasanya berpatokan pada cupping form. Semakin tinggi skornya, semakin menarik bagi pembeli. Secara nilai, kopi liberika Meranti masih berada di bawah rata-rata, sehingga kurang dilirik oleh buyer,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa rendahnya skor tersebut sangat dipengaruhi oleh proses pascapanen. Namun, proses yang lebih teknis dan kompleks kerap membuat petani enggan beralih dari metode natural.
“Petani kurang tertarik melakukan proses yang rumit, karena dengan proses natural saja kopi tetap habis terjual. Akibatnya, kualitas rasa dan nilai tambah sulit meningkat,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pasar kopi liberika sejatinya sudah terbuka luas.
“Kopi liberika ini bahkan sudah tersohor hingga ke Malaysia. Permintaan dan ekspor ke sana cukup besar. Liberika Meranti memiliki potensi besar untuk dipasarkan, baik di tingkat lokal maupun internasional,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kepulauan Meranti, Miftah, menilai kegiatan tersebut sangat relevan dalam mendorong hilirisasi kopi liberika di daerah.
“Ini tepat sekali untuk memajukan liberika Meranti. Nilai tambahnya sangat tinggi, hanya saja proses fermentasi membutuhkan waktu serta perubahan mindset di tingkat pelaku usaha,” ujarnya.
Miftah juga menyoroti masih minimnya pemanfaatan kopi lokal oleh kedai kopi di Meranti.
“Banyak kedai kopi di Meranti justru menggunakan kopi dari luar daerah seperti Medan. Padahal, liberika Meranti punya ciri khas dan potensi besar untuk masuk ke menu coffeshop,” katanya.
Lebih lanjut, ia berharap adanya dukungan dan kolaborasi Bank Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti melalui pelatihan maupun penyediaan peralatan.
“Kita berharap ada kolaborasi dengan BI agar liberika Meranti bisa berkembang dan bahkan mengalahkan pamor arabika dan robusta,” tegasnya.

Sementara itu, perwakilan Bank
Indonesia Provinsi Riau menyampaikan harapan agar kopi liberika mampu dipasarkan secara optimal baik di tingkat lokal maupun internasional.
“Meranti dan Riau ini punya kopi yang bagus, tetapi belum terpasarkan dengan baik. Kami akan mencoba mensinergikan program yang ada dengan pemerintah daerah untuk membina kelompok atau klaster, agar kualitas kopi liberika bisa lebih baik,” ujarnya.
Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, Sekretaris Disperindag Kepulauan Meranti Miftah, Direktur Bisnis BUMD Meranti Fitriadi Mirtha, pegiat kopi liberika sekaligus pengelola Sehasta dan Erber Coffee Pekanbaru Romi dan Syahreza, Pengelola Dikopi Selatpanjang Yayan, pegiat UMKM dan industri kreatif Meranti Igo Julianto, serta peserta lainnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kopi liberika Meranti semakin dikenal, kualitasnya meningkat, dan mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.***
Laporan : Dwiki