
Ketua Kelompok Mangrove Sungai Haji, Hendri, menyampaikan terima kasih atas dukungan berkelanjutan dari PT ITA. Ia mengungkapkan bahwa kelompoknya telah menanam lebih dari 5.000 batang dan menjual 1.020 batang mangrove secara resmi dalam tiga tahun terakhir.
“Yang perlu dibangun di Mayang Sari adalah manusianya. Karena sehebat apapun program pemerintah, kalau tidak didukung oleh SDM yang sadar dan peduli, semuanya akan sia-sia,” kata Hendri.
Kepala Desa Mayang Sari, Ibrahim, menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem mangrove.
“Mari kita jaga hutan mangrove yang tersisa. Jangan ada lagi yang menebang dan menjualnya. Kita harus bangkit bersama merevitalisasi hutan kita. Apalagi sudah ada SK dari Kementerian Kehutanan yang menetapkan 9 hektare kawasan mangrove di desa ini sebagai wilayah konservasi,” jelasnya.
Field CSR Officer PT ITA, Arip Hidayatulloh, menyebut bahwa keberhasilan program konservasi tak lepas dari kemauan masyarakat untuk mandiri.
“Dulu kami bantu bibit, sekarang masyarakat seperti Kelompok Mangrove Sungai Haji sudah bisa menyuplai 3.000 batang ke perusahaan. Ini bentuk kemajuan yang patut diapresiasi,” ujarnya.
Arip juga menekankan bahwa saat ini PT ITA membina delapan kelompok mangrove di sejumlah desa, dan sangat mendorong terbentuknya kolaborasi antarkelompok untuk memperkuat gerakan konservasi secara menyeluruh.
Usai penanaman, para peserta berkumpul di pondok mangrove yang beralas kayu dan beratap daun rumbia, yang berada di tengah kawasan Konservasi Mangrove Sungai Haji. Di tempat ini, seluruh kelompok konservasi menyampaikan laporan perkembangan masing-masing serta berdiskusi mengenai langkah-langkah kolaboratif ke depan.
Diskusi dipimpin oleh Arip Hidayatulloh, dan diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus memperkuat sinergi di antara kelompok-kelompok yang tergabung dalam Forum Mangrove Merbau.
Sebelum diskusi dimulai, peserta dan undangan terlebih dahulu menikmati makan siang bersama dengan sajian khas lokal, yakni mi sagu dan lokan.
Dalam sesi diskusi tersebut, Arip juga menyampaikan bahwa salah satu hasil kesepakatan penting adalah rencana tindak lanjut berupa pelatihan pengolahan produk mangrove di Kelompok Mangrove Pemula Desa Lukit.
“Kita ingin memperluas manfaat dari mangrove, bukan dengan menebang, tapi dengan mengolah secara bijak bagian-bagian yang tidak merusak. Nantinya daun dan buah mangrove akan dikembangkan menjadi produk seperti sirup, dodol, peyek, kerupuk, hingga kue kering,” jelasnya.
Kelompok Mangrove Sungai Haji saat ini telah mengembangkan kawasan konservasinya menjadi ekowisata berbasis edukasi, yang terbuka untuk masyarakat umum, pelajar, maupun pengunjung dari luar daerah.
Fasilitas yang dibangun secara kolaborasi dan bertahap ini meliputi jembatan kayu sepanjang 100 meter, pelantar pandang, dan pondok mangrove yang difungsikan sebagai ruang diskusi dan edukasi lingkungan.
Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai lokasi konservasi, tetapi juga sebagai tempat belajar langsung mengenai pentingnya hutan mangrove dalam menjaga garis pantai, mendukung ekosistem perikanan, dan mencegah dampak perubahan iklim.***
Laporan : Akmal