Di Balik Angka Femisida: Ketika Patriarki Merenggut Nyawa Perempuan

Di Balik Angka Femisida: Ketika Patriarki Merenggut Nyawa Perempuan

Jakarta, Catatanriau.com — Kasus femisida di Indonesia kembali menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Dalam Laporan Femisida 2023 yang disusun oleh organisasi _Jakarta Feminist_, ditemukan 180 kasus pembunuhan perempuan sepanjang tahun 2023 dengan total 187 korban dan 197 pelaku. Mayoritas pelaku merupakan laki-laki dengan persentase mencapai 94 persen.

Femisida bukan sekadar pembunuhan biasa. Femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan yang terjadi karena identitas gendernya sebagai perempuan. Dalam banyak kasus, terdapat unsur dominasi, kontrol, kebencian, hingga rasa memiliki terhadap tubuh dan kehidupan perempuan.

Data menunjukkan bahwa 37 persen korban memiliki relasi intim dengan pelaku, seperti suami, pacar, mantan pasangan, hingga teman kencan. Hal ini memperlihatkan bahwa ruang yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi ruang paling berbahaya bagi perempuan. Banyak perempuan dibunuh hanya karena dianggap membangkang, menolak ajakan menikah, menolak rujuk, atau karena pelaku merasa cemburu.

Selain itu, motif pembunuhan paling banyak berasal dari problem komunikasi, seperti cekcok, dendam, sakit hati, dan emosi yang tidak terkendali. Persentasenya mencapai 26 persen. Fakta ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih sering dianggap sebagai pelampiasan kemarahan laki-laki.

Yang lebih menyedihkan, media masih kerap memberitakan kasus femisida secara sensasional dan minim perspektif gender. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa media sering memojokkan korban, mengabaikan privasi korban, hingga menggunakan judul hiperbolis demi menarik perhatian pembaca.

Femisida bukan hanya persoalan kriminalitas, tetapi persoalan sosial dan budaya yang berakar pada patriarki. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan hukuman pidana. Negara, media, aparat hukum, dan masyarakat perlu membangun sistem perlindungan yang benar-benar berpihak pada perempuan serta menghadirkan ruang aman bebas kekerasan gender.

Laporan : Mutia

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index