Ellugar Coffee: Dari Gerobak Keliling hingga Kafe Berkonsep, Mimpi Anak Muda Tembilahan yang Menjadi Nyata

Ellugar Coffee: Dari Gerobak Keliling hingga Kafe Berkonsep, Mimpi Anak Muda Tembilahan yang Menjadi Nyata

Inhil, Catatanriau.com – Di tengah menjamurnya coffee shop di Tembilahan, Ellugar hadir dengan konsep berbeda yang berhasil mencuri perhatian pecinta kopi dan ruang nongkrong estetik. Siapa sangka, bisnis ini lahir dari semangat seorang anak muda bernama Amin Ridho (28), yang berani bermimpi besar meski bermodalkan pengalaman minim dan sumber daya terbatas.

Perjalanan Ellugar dimulai dari ketidaksengajaan. Amin awalnya hanya ikut menemani temannya yang bekerja di sebuah perusahaan pemasok bubuk minuman. Dari situ, rasa ingin tahunya terhadap dunia usaha tumbuh. Ia mulai memperhatikan proses produksi, menghitung harga pokok penjualan (HPP), hingga memahami strategi pemasaran.

Namun titik baliknya terjadi pada akhir tahun 2022. Amin melihat sebuah video TikTok yang menampilkan gerobak kopi bermerek Starbucks di Dubai—disebut-sebut sebagai gerobak kopi pertama di dunia. Ide itu membekas dalam pikirannya. Ia merasa konsep tersebut belum ada di Indonesia, khususnya di Tembilahan. Tanpa ragu, Amin mulai riset dan menyusun rencana. Ia bahkan meminta bantuan seorang mekanik lokal untuk membantunya merancang coffee bike impian.

Modalnya tidak banyak, tetapi semangat dan keyakinannya tak pernah goyah. Ia pun menggandeng seorang teman untuk berkolaborasi, hingga lahirlah Ellugar Coffee Bike—sebuah gerobak kopi keliling yang menjadi cikal bakal Ellugar hari ini. Namun seiring berjalannya waktu, keduanya memutuskan untuk melanjutkan jalan masing-masing. Sejak itu, Amin sepenuhnya mengambil alih dan mulai mengembangkan Ellugar menjadi dua kafe tetap: Ellugar Signature dan Ellugar Backyard.

Nama Ellugar diambil dari bahasa Spanyol yang berarti “tempat”. Terinspirasi dari film-film Spanyol yang sering ia tonton, Amin memilih nama ini karena menurutnya unik, mudah diingat, dan mewakili misi kafenya sebagai ruang berkumpul yang nyaman dan terbuka untuk siapa saja.

Meski kini sukses, perjalanan Ellugar tidak lepas dari tantangan. Amin mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan bisnis, sehingga banyak hal ia pelajari secara otodidak. Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga kualitas rasa dan mengelola sumber daya manusia. “Yang paling penting itu konsistensi rasa. Karena dari situlah pelanggan bisa percaya dan mau kembali. Alhamdulillah, dari awal sekitar 60–70 persen pelanggan kami adalah repeat order,” tutur Amin.

Strategi pemasaran Ellugar pun tak kalah menarik. Media sosial memberi kontribusi besar terhadap popularitas brand ini, terutama Instagram dan TikTok. Namun bagi Amin, hubungan personal dengan pelanggan jauh lebih penting. Ia rutin menghubungi pelanggan loyal lewat WhatsApp dan memberikan promo eksklusif. “Konsumen harus merasa dekat, bukan cuma sekadar pembeli,” ujarnya.

Kini, Ellugar bukan hanya sekadar kafe, tapi telah menjadi ruang kreatif dan tempat berkumpul bagi berbagai kalangan, sesuai dengan slogannya: “Space for Everyone.” Tak hanya memanjakan lidah, Ellugar juga ingin menghadirkan pengalaman yang hangat dan menyenangkan.

Ke depan, Amin memiliki rencana ekspansi agar Ellugar bisa hadir di kota-kota lain. Namun lebih dari itu, ia ingin kisahnya menjadi penyemangat bagi generasi muda. “Kalau kamu punya ide yang terus terngiang di kepala, mungkin itu memang harus dijalankan. Jangan takut memulai. Jangan takut gagal. Karena kegagalan itu bukan akhir, tapi pelajaran yang akan menguatkan langkahmu ke depan,” pesannya.***

Penulis: Ghina Zahira Shofa
Mahasiswi Universitas Islam Riau

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index