Tiga Tahun Berlalu, Suara Warga Rempang Kembali Menggema: Jaga Kampung, Jaga Identitas, Jaga Leluhur

Selasa, 08 September 2026 | 16:46:55 WIB
Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (AMAR-GB) menggelar doa bersama di Kampung Pantai Melayu, Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang, Senin (7/9/2026) malam.

BATAM,CATATAN RIAU.COM,: — Tiga tahun berlalu sejak tragedi yang terjadi di Kampung Tanjung Kertang, Pulau Rempang, pada 7 September 2023. Mengenang peristiwa tersebut, masyarakat Pulau Rempang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (AMAR-GB) menggelar doa bersama di Kampung Pantai Melayu, Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang, Senin (7/9/2026) malam.

Ratusan warga dari berbagai kampung di Pulau Rempang hadir dalam kegiatan tersebut. Sejak sekitar pukul 20.00 WIB, area parkir Kampung Pantai Melayu mulai dipadati warga yang datang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Selain doa bersama, kegiatan juga diisi dengan refleksi yang disampaikan perwakilan sejumlah kampung, termasuk Kampung Sungai Raya, Sungai Buluh, Sembulang Hulu, Sembulang, Pantai Melayu, Pasir Panjang, Pantai Tiga Putri serta perwakilan anak muda.

Ketua Panitia doa bersama, Miswadi, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar untuk mengenang peristiwa tiga tahun silam, tetapi juga menjadi momentum memperkuat persatuan masyarakat dalam menjaga kampung dan ruang hidup mereka. Menurutnya, pengalaman pahit yang dialami warga di Tanjung Kertang harus menjadi pelajaran bagi generasi saat ini untuk semakin memperkuat ikatan sosial dan menjaga warisan leluhur.

Miswadi menegaskan perjuangan masyarakat mempertahankan kampung diyakini masih akan menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, ia mengajak warga untuk tetap menjaga kekompakan dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai iming-iming.

“Jangan sampai kita tergoda oleh iming-iming. Selama ini kita tetap bisa makan tanpa ada bantuan, orangtua kita dulu juga. Jadi jangan khawatir kalau tidak dapat bantuan,” ujarnya dalam kegiatan tersebut.

Refleksi mengenai arti penting kampung juga disampaikan Gerisman Ahmad, warga Kampung Pantai Melayu. Ia menilai kampung memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Adat Melayu karena bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang tumbuhnya budaya, adab, etika dan tunjuk ajar yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui nasihat para orang tua.

Gerisman menekankan bahwa keberhasilan maupun prestasi seseorang tidak akan memiliki arti yang sama apabila kampung sebagai identitas masyarakat sampai kehilangan tempatnya. Baginya, keberadaan kampung berkaitan erat dengan keberlangsungan budaya dan jati diri masyarakat Pulau Rempang.

Pesan serupa muncul dalam refleksi warga dari berbagai kampung. Mereka menilai peristiwa 7 September 2023 perlu ditempatkan sebagai bagian dari sejarah yang menjadi pembelajaran bersama, sekaligus momentum untuk memperkuat persatuan dalam memperjuangkan ruang hidup. Sementara itu, Sopia, warga Kampung Sungai Raya, mengajak masyarakat untuk terus menjunjung nilai keadilan dalam menghadapi berbagai persoalan yang mereka rasakan.

Dalam refleksinya, Sopia mengutip pernyataan sejumlah tokoh dunia mengenai kemanusiaan dan kebebasan. Salah satunya pernyataan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, “Kemanusiaan harus ditempatkan di atas segala-galanya.”

Ia juga mengutip Nelson Mandela yang menekankan bahwa kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari belenggu, melainkan juga bagaimana kehidupan dijalani dengan menghormati serta memperluas kebebasan orang lain.

Di penghujung kegiatan, warga menyampaikan orasi yang menegaskan sikap mereka dalam memperjuangkan keadilan serta mempertahankan kampung dan ruang hidup. Dalam seruan tersebut, warga menegaskan bahwa kampung merupakan identitas masyarakat Pulau Rempang dan bagian dari warisan leluhur yang ingin mereka jaga untuk generasi mendatang.

Seruan itu ditutup dengan pesan, “Rempang bukan tanah kosong. Hidup Rempang. Hidup perempuan yang melawan. Allahuakbar.”****

Terkini