Siak, Catatanriau.com – Tragedi runtuhnya lantai dua bangunan cagar budaya Tangsi Belanda di Kecamatan Mempura, Sabtu (31/1/2026) pagi, menjadi tamparan keras bagi pengelolaan pariwisata sejarah di Kabupaten Siak. Insiden ini mengakibatkan belasan pelajar dan guru yang tengah mengikuti kegiatan wisata edukasi mengalami luka-luka.
Peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 09.45 WIB. Saat itu, rombongan SD IT Baitul Ridho Kampung Rawang Kao yang terdiri dari 55 siswa dan 13 guru berada di lantai dua Gedung A kompleks Tangsi Belanda. Tanpa peringatan, lantai dan bordes tangga berbahan kayu tiba-tiba ambruk, membuat para siswa dan guru terjatuh ke lantai dasar dari ketinggian sekitar empat meter.
Akibat kejadian tersebut, satu orang guru dan delapan siswa mengalami luka-luka, mulai dari luka robek di kepala dan wajah, nyeri pinggang, hingga bengkak pada kaki dan tangan. Seluruh korban langsung dievakuasi ke RSUD Tengku Rafi’an Siak untuk mendapatkan penanganan medis.
Insiden ini menuai reaksi keras dari Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Mempura( IPMAPURA ) PEKANBARU sekaligus kader PMII, Sahabat Muhammad Fauzi Ramadani. Ia menilai kejadian tersebut bukan sekadar kecelakaan, melainkan bentuk nyata kelalaian dalam pemeliharaan dan pengawasan aset cagar budaya.
“Ini bukan musibah biasa. Ini cermin gagalnya manajemen risiko dan pengelolaan bangunan bersejarah. Keselamatan pengunjung, apalagi pelajar, seharusnya menjadi prioritas utama,” tegas Fauzi.
Menurut Fauzi, insiden ini tidak dapat dianggap sebagai kecelakaan semata, melainkan mencerminkan gagalnya manajemen risiko dan pengawasan terhadap aset sejarah yang seharusnya dijaga secara ketat.
Ia juga menyoroti fakta bahwa Tangsi Belanda telah
direvitalisasi oleh Kementerian PUPR pada 2018 dengan anggaran APBN sebesar Rp5,2 miliar, mencakup Gedung A dan Gedung F. Ironisnya, gedung yang telah direvitalisasi justru menjadi lokasi runtuhnya lantai dua.
Berdasarkan hasil pemantauan awal di lapangan, runtuhnya lantai diduga disebabkan oleh kondisi kayu yang telah lapuk dan dimakan rayap, serta minimnya perawatan berkala terhadap bangunan yang telah berusia tua.
IPMAPURA-PEKANBARU melalui Ketua Umumnya mendesak Dinas Pariwisata dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Siak untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan fungsi seluruh bangunan cagar budaya, termasuk Istana Siak dan bangunan bersejarah lainnya.
“Jangan sampai cagar budaya yang seharusnya menjadi ruang edukasi justru terus memakan korban. Pemerintah daerah harus bertanggung jawab penuh atas keselamatan masyarakat,” tutup Sahabat Fauzi.
Pasca insiden tersebut, kawasan Tangsi Belanda ditutup sementara untuk kepentingan penyelidikan dan mencegah terulangnya kejadian serupa.***
Laporan : Tiyna