Kemah Baduy Warnai Rangkaian HPN 2026

Senin, 19 Januari 2026 | 16:04:05 WIB
Kemah Baduy Warnai Rangkaian HPN 2026

Jakarta, Catatanriau.com – Menjelang puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan digelar pada 9 Februari mendatang di Provinsi Banten, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menggelar berbagai kegiatan bermakna. Salah satunya adalah Kemah Budaya yang berlangsung pada 16–17 Januari 2026 di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, tepat di wilayah masyarakat adat Baduy.

Kegiatan bertema “Belajar Mencintai dari Baduy” ini diikuti puluhan wartawan dan sastrawan dari berbagai provinsi di Indonesia, mulai dari Kalimantan Timur, Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, hingga DKI Jakarta. Kemah Budaya menjadi ruang perjumpaan insan pers dengan nilai-nilai kearifan lokal yang hidup dan terjaga hingga kini.

Menariknya, dari total 50 peserta yang mengikuti kegiatan ini, sekitar 80 persen merupakan perempuan. Hal tersebut selaras dengan kebijakan panitia yang memprioritaskan keterlibatan wartawati dan sastrawati sebagai bentuk penguatan peran perempuan dalam dunia jurnalistik dan sastra.
Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir, didampingi Sekretaris Jenderal Zulmansyah Sekedang, secara langsung melepas keberangkatan peserta pada Kamis sore (15/1) di Kantor PWI Pusat, Jalan Kebon Sirih, Jakarta. Dalam arahannya, pria yang akrab disapa Cak Munir itu menitipkan pesan agar seluruh peserta menghormati kearifan lokal Baduy dan menuangkannya secara jujur dalam karya jurnalistik maupun sastra.

“Kemah Baduy ini menjadi momen penting kontribusi PWI untuk Indonesia, khususnya Banten sebagai tuan rumah HPN 2026. Catatlah apa yang dilihat dan dirasakan dengan mengedepankan kejujuran, pelestarian, dan penghormatan terhadap kearifan lokal,” pesan Cak Munir.

Pada Jumat (16/1), rombongan bertolak menuju Rangkasbitung dan disambut jajaran Pemerintah Kabupaten Lebak di Aula Museum Multatuli. Hadir dalam penyambutan tersebut Asisten Daerah III Pemkab Lebak Dr Iyan Fitriyana, Kepala Diskominfo Lebak Anik Sakinah, serta sejumlah pejabat lainnya. Penyambutan ditandai dengan penyerahan syal dan ikat kepala khas Baduy kepada peserta.
Dalam sambutannya, Dr Iyan Fitriyana menyampaikan apresiasi dan harapan besar terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai Baduy sebagai kekayaan istimewa Lebak dan Banten yang mengajarkan nilai hidup sederhana, jujur, serta selaras dengan alam. 
Tema Belajar Mencintai dari Baduy disebutnya relevan bagi insan pers dalam menjaga nurani dan etika profesi.

Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat, Ramon Damora, menegaskan bahwa Kemah Budaya ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan refleksi jurnalistik menjelang HPN 2026. Menurutnya, wartawan perlu menyerap nilai-nilai budaya secara langsung agar karya yang lahir tidak hanya informatif, tetapi juga berempati dan berjiwa.

Sebelum menuju kawasan adat Baduy, peserta diajak berkeliling Museum Multatuli yang dipandu langsung oleh Kepala Museum, Ubaidillah Muchtar. Dalam penjelasannya, Kang Ubai, sapaan akrabnya, mengulas sejarah Rangkasbitung, perjuangan antikolonialisme, hingga karya monumental Multatuli, Max Havelaar, yang berpengaruh besar dalam sejarah bangsa.
Perjalanan dilanjutkan menuju Baduy Luar di Desa Kanekes. Di sana, peserta disambut hangat oleh Jaro atau Kepala Desa Kanekes di Imah Jaro. Dengan suguhan jajanan lokal dan suasana rumah panggung khas Baduy, peserta mendengarkan petuah tentang menjaga alam dan kearifan lokal, sekaligus berdialog langsung dengan pemimpin adat.

Malam hari, peserta diinapkan di rumah-rumah warga Kampung Ketug, Baduy Luar. Tanpa listrik dan dengan penerangan seadanya, peserta merasakan langsung kehidupan masyarakat Baduy, tidur di lantai bambu, makan bersama, serta berinteraksi akrab dengan tuan rumah. Keesokan harinya, peserta menjelajah kampung dan menikmati kekayaan alam Baduy yang sedang memasuki musim buah.
Seluruh rangkaian Kemah Budaya Baduy ini akan melahirkan karya buku. Wartawan menulis feature, sementara sastrawan menulis esai, puisi, dan cerpen. Karya-karya tersebut akan dibukukan dan direncanakan diluncurkan pada 8 Februari 2026, sehari sebelum puncak perayaan Hari Pers Nasional di Provinsi Banten.*****

Terkini