Meranti, Catatanriau.com – Program Light Your Green Action & Innovation (LYGA) yang diinisiasi PT PLN bersama Rumah BUMN Riau melalui tema “Sagu Tiada Ragu” terbukti memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produktivitas UMKM pengolah mie sagu di Kepulauan Meranti. Dua pelaku usaha yang merasakan langsung manfaat program ini adalah Inti Sari Makmur dan Mie Sagu Azmi.
Kedua UMKM tersebut menjadi contoh nyata peran penting usaha lokal dalam menggerakkan perekonomian daerah sekaligus menjaga keberlanjutan kearifan lokal melalui produk unggulan mie sagu. Dengan jangkauan pemasaran yang telah merambah ke luar daerah, Inti Sari Makmur dan Mie Sagu Azmi turut membuka lapangan pekerjaan serta memperkuat ekonomi masyarakat Kepulauan Meranti.

Namun demikian, perjalanan usaha keduanya tidak lepas dari berbagai tantangan. Inti Sari Makmur yang telah beroperasi lebih dari dua dekade menghadapi kendala utama pada keterbatasan mesin produksi serta ketersediaan air bersih. “Setiap hari kami membutuhkan air bersih dalam jumlah besar untuk proses produksi mie sagu,” ujar Rahmat, pemilik Inti Sari Makmur.
Sementara itu, Mie Sagu Azmi mengalami tantangan pada aspek distribusi. Tingginya biaya pengiriman produk ke pelabuhan menjadi beban tersendiri, terutama karena keterbatasan sarana transportasi. “Karena belum memiliki kendaraan sendiri, kami harus menyewa jasa angkut untuk membawa produk ke pelabuhan,” ungkap Fainani, pemilik Mie Sagu Azmi.
Menjawab berbagai kendala tersebut, program LYGA “Sagu Tiada Ragu” memberikan dukungan konkret berupa fasilitas produksi dan sarana pendukung operasional. Inti Sari Makmur menerima dua unit mesin produksi serta dua unit toren air. “Sebelumnya produksi kami hanya sekitar 70–80 kilogram per hari. Setelah mendapat bantuan, kapasitas meningkat menjadi sekitar 300 kilogram per hari,” ujar Suniyah, pemilik Inti Sari Makmur.

Adapun Mie Sagu Azmi memperoleh satu unit kendaraan Viar New Karya yang dimanfaatkan untuk distribusi produk ke pelabuhan serta menunjang aktivitas operasional lainnya. “Alhamdulillah, bantuan motor Viar ini sangat membantu. Biaya produksi menjadi lebih efisien karena kami tidak lagi bergantung pada jasa angkutan,” kata Fainani.
Kolaborasi PT PLN dan Rumah BUMN Riau melalui program LYGA “Sagu Tiada Ragu” menunjukkan peran strategis sektor korporasi dalam pemberdayaan ekonomi lokal. Dukungan yang diberikan tidak hanya mempercepat pertumbuhan UMKM, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Selain meningkatkan kapasitas produksi, program ini membuka peluang bagi UMKM agar lebih berdaya saing di pasar yang lebih luas. Produk mie sagu sebagai pangan khas daerah memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya yang tinggi. Dengan dukungan mesin modern, sarana distribusi, dan infrastruktur pendukung, UMKM Meranti semakin siap melakukan ekspansi pasar.
Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi penguatan UMKM, khususnya di Kepulauan Meranti. Program LYGA “Sagu Tiada Ragu” tidak hanya bersifat bantuan jangka pendek, melainkan langkah strategis dalam membangun ekosistem UMKM yang mandiri dan berkelanjutan. Ke depan, program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan UMKM di daerah lain, dengan pendekatan kolaboratif yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pelestarian kearifan lokal.***
Laporan : Dwiki