Dari Keripik Tempe Sagu hingga Bakso Sagu, Program Sagu Tiada Ragu Dorong Ekonomi Lokal melalui Dukungan Mesin Produksi di Kepulauan Meranti

Selasa, 23 Desember 2025 | 16:20:59 WIB

Meranti, Catatanriau.com -- Rumah BUMN Riau melalui program Light Your Green Action & Innovation (LYGA) bertajuk Sagu Tiada Ragu memberikan dukungan nyata kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berinovasi dalam pengolahan produk berbasis sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti. Program ini bertujuan memberdayakan pelaku UMKM, mempercepat pertumbuhan usaha, serta mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi.

Sebagai daerah yang dikenal memiliki potensi besar komoditas sagu, Kepulauan Meranti menyimpan peluang pengembangan produk olahan bernilai tambah. Program Sagu Tiada Ragu hadir sebagai solusi untuk meningkatkan mutu produk, kapasitas produksi, dan daya saing UMKM, sekaligus memperluas akses pasar. Melalui dukungan PT PLN (Persero) dalam program LYGA, Rumah BUMN Riau menyalurkan bantuan berupa mesin produksi dan peralatan dapur kepada tiga UMKM unggulan, yakni Qeyla Best, Dapoer AA, dan Sagu Riau Maju Jaya.

Qeyla Best yang berlokasi di Desa Kundur merupakan UMKM penghasil keripik tempe sagu. Usaha yang dikelola Suhaila ini dirintis secara otodidak melalui proses trial and error hingga berhasil memasarkan produknya ke wilayah sekitar. Sebelumnya, proses produksi masih dilakukan secara manual, khususnya pada tahap pemotongan adonan yang membutuhkan waktu dan tenaga cukup besar.

“Saya bersyukur bisa memperoleh mesin produksi. Sebelumnya produksi kami memiliki banyak keterbatasan dan tidak pernah terbayang akan mendapatkan bantuan seperti ini. Dengan adanya mesin ini, insya Allah produksi kami bisa meningkat,” ujar Suhaila.

Melalui program LYGA Sagu Tiada Ragu, Qeyla Best menerima bantuan berupa peralatan dapur dan mesin produksi, termasuk mesin pemotong adonan. Bantuan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk.

UMKM kedua penerima manfaat adalah Dapoer AA yang dikelola oleh Laili Hanifah bersama pasangannya, Subakir. Dapoer AA juga memproduksi keripik tempe sagu dan sebelumnya menghadapi tantangan serupa, terutama pada proses pemotongan dan pengeringan yang masih dilakukan secara manual, sehingga rawan kesalahan dan memakan waktu.

“Setelah mendapatkan mesin pemotong, Alhamdulillah sangat terbantu. Proses produksi sudah tidak manual lagi. Kami juga mendapat mesin spinner dan kemasan baru yang lebih menarik. Sejak menggunakan kemasan baru, produk kami jadi lebih dikenal,” ungkap Laili Hanifah.

Sebagai solusi, tim LYGA menyalurkan mesin pemotong, mesin spinner atau pengering makanan, serta dukungan pengemasan produk. Diharapkan, bantuan ini dapat memperluas jangkauan pasar Dapoer AA dan meningkatkan daya saing produk di tingkat nasional.

Sementara itu, Sagu Riau Maju Jaya merupakan UMKM yang telah berinovasi dalam mengembangkan beragam produk turunan sagu. Produk unggulannya antara lain bakso sagu atau Bakso Lolow, serta Misagu Boedjang, mie sagu instan yang menjadi salah satu inovasi khas Kepulauan Meranti. UMKM ini juga memiliki gerai pemasaran mandiri bernama Sagu Kite, serta memproduksi cendol sagu dan berbagai olahan sagu lainnya.

Sebelumnya, proses produksi bakso sagu dilakukan secara manual, terutama pada tahap pembentukan bakso yang memerlukan tenaga dan waktu cukup besar. Melalui program LYGA, Rumah BUMN Riau menyalurkan bantuan berupa mesin penggiling daging, mesin mixer, dan mesin pencetak bakso guna meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi.

“Awalnya kami hanya mampu memproduksi sekitar 50 kilogram daging. Dengan adanya mesin, kapasitas produksi bisa meningkat dan prosesnya menjadi lebih efektif. Sekarang kami bisa melakukan satu kali sesi produksi besar dalam seminggu,” jelas Praptini, pemilik Sagu Riau Maju Jaya.

Sebagai pelaksana program, Rumah BUMN Riau berharap program Sagu Tiada Ragu dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi lokal di Kepulauan Meranti. Dukungan peralatan produksi ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usaha UMKM, membuka lapangan kerja, serta memperkenalkan produk olahan sagu yang inovatif ke pasar yang lebih luas.

“Melalui program Sagu Tiada Ragu, kami berharap UMKM di Kepulauan Meranti terus berinovasi dan berkembang. Bantuan mesin produksi ini diharapkan dapat mempercepat proses produksi, meningkatkan kualitas produk, dan membuka peluang pasar yang lebih besar. Pada akhirnya, program ini diharapkan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah dan masyarakat sekitar,” ujar Putri Maysora, Fasilitator Rumah BUMN Riau sekaligus Project Executor LYGA.***

Laporan : Dwiki

Terkini