Program LYGA Sagu Tiada Ragu Perkuat Ekosistem UMKM Sagu di Kepulauan Meranti. Hadirkan Pelatihan hingga Bantuan Alat Produksi

Selasa, 23 Desember 2025 | 14:38:12 WIB

Meranti, Catatanriau.com – Program LYGA (Light Your Green Action and Innovation) yang digagas oleh PT PLN melalui Rumah BUMN Riau terbukti memberikan dampak positif bagi pengembangan UMKM olahan sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti. Mengusung tema “Sagu Tiada Ragu”, program ini bertujuan memperkuat kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di sektor pengolahan sagu, salah satu komoditas unggulan daerah.

Program LYGA tidak hanya berfokus pada pelatihan dan edukasi, tetapi juga memberikan dukungan nyata berupa bantuan alat produksi serta kemasan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk UMKM. Kegiatan diawali dengan pelatihan yang dilaksanakan pada 19 Februari 2025 di Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur. Pelatihan ini difasilitasi oleh Rumah BUMN Riau melalui Muhammad Khairi dan Putri Maysora, dengan materi strategi pemasaran digital serta teknik packaging modern.

Salah satu peserta, Suziati dari UMKM Mosagu, mengungkapkan bahwa pelatihan tersebut membuka wawasan pelaku usaha terhadap pentingnya pemasaran digital dan kemasan yang menarik guna meningkatkan nilai jual produk olahan sagu.

Program LYGA kemudian dilanjutkan dengan workshop pengolahan limbah sagu menjadi pupuk kompos dan pupuk cair pada 20 Februari 2025. Edukasi ini bertujuan memperkenalkan konsep keberlanjutan dan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah sagu agar bernilai guna, khususnya untuk memperkaya nutrisi tanah pertanian masyarakat sekitar.

Sebagai bentuk dukungan konkret, tim LYGA menyerahkan sejumlah bantuan alat produksi dan kemasan kepada UMKM penerima manfaat. Mosagu, produsen cookies sagu aneka rasa, menerima oven berkapasitas besar, kemasan produk yang lebih modern, bantuan bahan baku, serta pendampingan peningkatan legalitas usaha, meliputi pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, dan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

Sementara itu, UMKM Mak Long sebagai produsen kerupuk sagu lokal memperoleh bantuan mesin pemotong adonan kerupuk serta kemasan yang lebih efisien. Bantuan ini diharapkan dapat mempercepat proses produksi, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas akses pasar.
Suziati menyampaikan bahwa bantuan oven sangat membantu peningkatan produktivitas Mosagu. Dengan kapasitas produksi yang lebih besar, proses produksi menjadi lebih efisien dan mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Hal serupa dirasakan Mak Long. Zunifalzi, pemilik usaha tersebut, menjelaskan bahwa sebelumnya proses pemotongan adonan masih dilakukan secara manual dan memakan waktu cukup lama. Dengan adanya mesin pemotong dan kemasan modern, Mak Long kini lebih percaya diri untuk bersaing dan memperluas pemasaran produk kerupuk sagu.

Pemilihan Mosagu dan Mak Long sebagai penerima bantuan didasarkan pada konsistensi keduanya dalam memproduksi olahan sagu serta potensi besar untuk berkembang dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Desa Sungai Tohor.

Melalui rangkaian program yang komprehensif ini, LYGA “Sagu Tiada Ragu” menjadi salah satu upaya nyata dalam memperkuat ekosistem UMKM olahan sagu di Kepulauan Meranti. Kolaborasi PT PLN dan Rumah BUMN Riau diharapkan mampu mendorong pemberdayaan UMKM sekaligus pengembangan ekonomi lokal berbasis kearifan dan keberlanjutan.***

Laporan : Dwiki

Terkini