Wayang Menyapa Dunia Digital: Saat Generasi Z Jadi Dalang Baru

Jumat, 07 November 2025 | 17:56:36 WIB
Artikel Opini, Oleh : Maulana Rizki Adha

Catatanriau.com - Setiap tanggal 7 November, Indonesia memperingati Hari Wayang Nasional — sebuah momentum penting untuk menghormati wayang sebagai warisan budaya yang telah diakui UNESCO sejak tahun 2003. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga pengingat bahwa di balik tokoh-tokoh pewayangan, tersimpan nilai-nilai luhur yang membentuk karakter bangsa.

Namun di tengah derasnya arus digitalisasi, muncul pertanyaan mendasar: masihkah generasi muda memahami makna di balik wayang? Apakah wayang akan sekadar menjadi simbol masa lalu, atau justru menjadi inspirasi baru di dunia yang serba digital?

Wayang dan Peluang di Era Digital

Kemajuan teknologi seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman bagi kelestarian wayang, melainkan sebagai peluang kreatif untuk melakukan transformasi budaya. Saat ini, banyak kreator muda yang mulai mengadaptasi kisah-kisah pewayangan dalam bentuk animasi, komik digital, hingga video pendek di YouTube dan TikTok.

Melalui pendekatan visual yang dekat dengan gaya komunikasi generasi Z, nilai-nilai wayang dapat dihidupkan kembali — bukan lewat panggung tradisional semata, tetapi juga melalui layar-layar digital yang akrab dengan kehidupan mereka.

Pemerintah dan komunitas budaya pun telah memanfaatkan media digital untuk dokumentasi, pementasan daring, hingga kolaborasi dengan seniman modern. Wayang tidak mati; ia bertransformasi mengikuti zaman.

Empat Taktik Kreatif Menghidupkan Wayang

Transformasi Visual Wayang
Langkah pertama adalah mengemas wayang ke dalam bentuk visual modern seperti animasi bergaya anime, film pendek, atau serial kartun. Gaya visual yang dinamis dan penuh warna akan lebih menarik bagi generasi muda, tanpa harus menghilangkan nilai filosofis di dalamnya.

Storytelling di Platform Digital
Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube bisa menjadi panggung baru bagi wayang. Dengan teknik storytelling digital, kisah Mahabharata atau Ramayana dapat disampaikan secara ringan dan menghibur, sekaligus menanamkan nilai moral tanpa kesan menggurui.

Kolaborasi dengan Influencer
Di era digital, influencer memiliki daya pengaruh besar. Kolaborasi antara pegiat budaya dan influencer dapat memperluas jangkauan wayang ke publik yang lebih luas. Dengan cara ini, wayang dapat kembali “viral” dan diterima oleh generasi muda.

Bahasa yang Mudah Dipahami
Salah satu kendala utama dalam mengenalkan wayang adalah bahasa yang sulit dipahami. Generasi muda yang tidak menguasai bahasa Jawa kerap kesulitan memahami jalan cerita. Maka, penggunaan bahasa Indonesia atau Inggris dalam pertunjukan dan adaptasi wayang menjadi kunci agar lebih mudah diterima secara nasional maupun internasional.

Generasi Muda, Pewaris dan Dalang Baru

Hari Wayang Nasional bukan sekadar peringatan, melainkan panggilan untuk kembali menyelami jati diri budaya bangsa. Generasi muda adalah dalang baru yang memegang peran penting dalam menghidupkan kembali kisah-kisah wayang melalui cara mereka sendiri — lewat karya digital, konten kreatif, atau inovasi visual yang menyentuh dunia modern.

Wayang tidak pernah usang. Ia hanya menunggu untuk dibacakan ulang dengan suara generasi baru — generasi yang melek teknologi, kreatif, dan bangga akan warisan budayanya sendiri.***

Penulis : Maulana Rizki Adha, Mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Jurusan Ilmu Komunikasi Semester 5

Terkini