Inhil, Catatanriau.com — Semangat menjaga ketahanan pangan tidak selalu datang dari mereka yang berprofesi di bidang pertanian. Hal itu dibuktikan oleh Sona Adiansyah, S.Kom.I, warga Desa Teluk Nibung, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, yang menanam tanaman palawija, khususnya jagung, di lahan masyarakat setempat secara mandiri tanpa mengandalkan bantuan pemerintah.
Kepada wartawan, Ahad (5/10/2025), Sona menceritakan awal mula dirinya terjun ke dunia pertanian. Ia mengatakan, ide menanam jagung bermula dari rasa ingin tahu dan semangat untuk memanfaatkan lahan kosong agar lebih produktif.
“Awalnya hanya coba-coba saja. Saya mencari bibit secara online dan memanfaatkan benih jagung yang ada di pasar. Tidak ada bantuan atau subsidi dari pemerintah, semua murni hasil inisiatif pribadi,” ujarnya.

Menurut Sona, meskipun dirinya bukan lulusan pertanian, namun proses menanam palawija seperti jagung relatif sederhana dan bisa dilakukan siapa saja asalkan memiliki kemauan.
“Menanam jagung itu tidak sulit. Hanya butuh beberapa benih, lalu buat lubang di tanah menggunakan kayu, dan dalam beberapa bulan bisa dipanen,” jelasnya sambil tersenyum.
Lebih lanjut, Sona menekankan bahwa inti dari kegiatan bertani bukan hanya soal keuntungan finansial, tetapi tentang nilai kerja keras, kemandirian, dan pemberdayaan diri di tengah keterbatasan.
“Yang paling penting, sebagai pemuda jangan menyerah pada kemalasan. Teruslah berkarya dan berkontribusi untuk masyarakat dan negara, walau dengan cara sederhana seperti menanam jagung,” katanya.
Sona berharap hasil tanamannya bisa dinikmati oleh banyak orang. Ia juga menegaskan, hasil dari jerih payah petani selayaknya mendapat apresiasi yang pantas.
“Saya tidak bicara soal uang semata. Tapi kalau hasil jagungnya dibeli masyarakat, setidaknya itu juga bentuk penghargaan kepada petani,” tambahnya.
Dalam pandangannya, Sona juga mengutip pesan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, yang menyebut “Petani adalah Penyangga Tatanan Negara Indonesia.” Menurutnya, jika generasi muda enggan menjadi petani, maka masa depan ketahanan pangan bangsa bisa terancam.
“Kalau tidak ada generasi penerus di desa yang mau bertani, siapa nanti yang akan menjaga tatanan bangsa di akar rumput?” tegasnya.
Di akhir perbincangan, Sona mengajak seluruh pemuda desa untuk mulai membangun kesadaran bercocok tanam di daerah masing-masing, apalagi di Desa Teluk Nibung yang masih memiliki lahan luas.
“Di sini lahan masih banyak dan subur. Kalau kita olah dengan baik, tentu tak perlu merantau ke kota atau ke luar negeri hanya untuk mencari pekerjaan. Semua bisa dilakukan di daerah sendiri,” tuturnya.
Sona juga menambahkan, selain dikenal sebagai daerah dengan lumbung pohon kelapa terbesar di Asia Tenggara, Teluk Nibung sejatinya memiliki potensi besar menjadi lumbung pangan lokal jika masyarakatnya mau bersama-sama menggarap lahan yang ada.***