PHR Bersama Pemerintah Kampung Minas Barat Gelar Pelatihan Budidaya Lele, Dorong Ketahanan Pangan Warga

Jumat, 15 Agustus 2025 | 11:06:04 WIB

Siak, Catatanriau.com – Pemerintah Kampung Minas Barat, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, menggelar Pelatihan Pengembangan Usaha Budidaya Perikanan dengan fokus pada sosialisasi budidaya ikan lele. Kegiatan yang berlangsung Jumat–Sabtu (15–16/08/2025) ini merupakan bagian dari Program Community Involvement Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan.

Acara dibuka langsung oleh Pj Penghulu Kampung Minas Barat, Ayang Bahari, dan dihadiri oleh perwakilan CID PHR Soni Maulana, LPPM Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Raja Septiana, Penyuluh Perikanan Lapangan (PPL) Kecamatan Minas Ridi, Konsultan Perikanan Selamet Mahadi, Ketua Bathin Limo Bomban Mineh H. Muhammad Bungsu Dj, kelompok peternak ikan Pokdakan Sakai Abadi, serta mahasiswa dari UMRI dan Universitas Riau (UNRI).

Dalam sambutannya, Ayang Bahari menyampaikan rasa terima kasih kepada PHR yang telah menjalin kerja sama untuk mengadakan pelatihan ini.

“Ini perdana kita laksanakan sosialisasi langsung di lapangan, tepat di dekat kolam ikan. Besok pagi, kalau tidak ada halangan, akan dilakukan pelepasan bibit ikan. Semoga ilmu yang diperoleh hari ini dapat dibagikan kepada peternak lainnya di Kampung Minas Barat,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pengetahuan teknis dalam mengurangi angka kematian ikan. Menurutnya, kematian 100–200 ekor dari 10 ribu bibit masih tergolong wajar, namun jika mencapai ribuan ekor, itu menjadi masalah serius yang harus diantisipasi.

Perwakilan CID PHR, Soni Maulana, menyebutkan bahwa program ini dirancang untuk membekali masyarakat dengan keterampilan teknis budidaya lele, mulai dari perawatan hingga panen.

“Kami berharap pemerintah kampung, PPL, dan kelompok peternak dapat terus memantau dan menjaga semangat agar program ini konsisten berjalan,” ujarnya.

Ridi, PPL Perikanan Kecamatan Minas, mengapresiasi perhatian PHR dalam mendukung ketahanan pangan. Ia berharap Pokdakan Sakai Abadi dapat menjadi contoh bagi desa lain.

“Bantuan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Mulai dari penyemaian bibit hingga panen, semuanya akan dipantau. Kami ingin peserta serius mempelajari cara budidaya yang baik, mulai dari pemberian pakan, pengamatan kesehatan ikan, hingga mengukur pertumbuhannya,” jelas Ridi.

Konsultan Perikanan Selamet Mahadi memaparkan berbagai metode pemeliharaan lele, di antaranya:

  • Kolam Tanah – ekonomis, cocok untuk skala tradisional.
  • Kolam Beton – awet dan mudah dikontrol.
  • Kolam Terpal – fleksibel dan murah dibuat.
  • Keramba Jaring Apung (KJA) – memanfaatkan perairan luas.
  • Kolam Bioflok – ramah lingkungan, hemat pakan.
  • Kolam RAS – hemat air, cocok di lahan sempit.

Perawatan Lele Hingga Panen

Dalam pelatihan dijelaskan bahwa keberhasilan panen lele ditentukan oleh manajemen perawatan yang baik:

  • Air: Diganti sebagian secara berkala, terutama jika keruh atau berbau.
  • Pakan: Diberikan 2–3 kali sehari dengan pelet berkadar protein tinggi sesuai usia ikan.
  • Kebersihan: Sisa pakan dan kotoran dibersihkan untuk mencegah penyakit.
  • Pemantauan: Pertumbuhan dipantau tiap 2 minggu, ikan disortir agar ukuran merata.
    Dengan perawatan optimal, lele dapat dipanen dalam 2,5–3,5 bulan dengan ukuran 7–9 ekor per kilogram.

Praktek Lapangan

Kegiatan pelatihan hari pertama diisi dengan teori dan diskusi, sementara esok hari dijadwalkan penyerahan bibit lele secara simbolis dan praktek langsung penyemaian. Hari ini juga dilakukan pemasangan lima keramba di dalam kolam, disaksikan oleh seluruh peserta.

Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal yang kuat bagi warga Minas Barat untuk mengembangkan usaha perikanan lele, sekaligus mendukung ketahanan pangan desa.***

Terkini